Muncak pertama sekaligus muncak terakhir, kata-kata Mumun tadi siang ketika tiba di Puncak Abiyoso Gunung Muria ini seketika menyeruak dalam hatiku tatkala melihat keributan yang terjadi di tenda putri.
Apalagi melihat Acing yang tadinya tiduran dengan matrasnya di dekat tenda itu langsung meloncat ke dalam tenda. Saya yang tengah asyik mengobrol dengan beberapa teman ikut menghambur ke dalam tenda.
Sebagaimana yang sempat aku khawatirkan, Mumun tergeletak dikerumuni beberapa teman perempuannya. Acing satu-satunya cowok yang ada di situ tengah memegang pergelangan tangan Mumun. Memeriksa denyut nadinya. Sementara Mumun sendiri tampak terpejam menahan kesakitan dengan nafas yang berat dan tersengal-sengal.
Mulut yang terbuka lebar, tarikan nafas yang panjang dan berat disertai bunyi erangan cukup memberitahuku bahwa ada yang tidak beres dengan nafasnya. Karenanya langsung kuisyratkan agar orang-orang yang tidak berkompeten untuk segera keluar tenda. Kini tinggal saya, Acing, Dwi Rahayu, Wulan dan Lis Jelman yang masih menunggui Mumun. Teman-teman yang lain pasti berkerumun di luar tenda. Dalam kebingungan seperti halnya saya.
Tak ada kata-kata yang terucap dari mulut kami. Ketika kuarahkan pandang kepada Dwi, orangnya hanya mengangkat kedua bahunya. Hanya Lis Jelman yang tampak semakin resah saling beradu pandang dengan Wulan. Kedua teman Mumun ini seakan hendak mengucapkan sesuatu. Kutatap lekat-lekat Lis yang tepat berada di samping kananku. Mata kami beradu hingga dia beralih sejenak melirik Wulan. Untuk kedua kalinya mata kami bertatapan.
“Katakan!”
“Mumun…” ucapnya ragu-ragu. “Mumun pernah menderita asma.”
“Asma?!!.”
Edan. Pengidap asma diajak mendaki gunung. Medan yang melelahkan dan menguras tenaga berpadu dengan udara dingin dan kadar oksigen yang tipis. Kombinasi yang sangat fantastik.
Kegiatan pendakian yang tanpa perencanaan dan persiapan yang matang ini berimbas pada seleksi peserta yang asal-asalan. Tanpa riwayat medis peserta, P3K-pun hanyalah membawa sebotol minyak kayu putih, obat merah dan kain kasa sisa kegiatan yang telah lalu. Sedangkan kami berada di puncak sebuah gunung yang berjarak tidak kurang dari 3 jam perjalan melalui medan ekstrim. Ditambah lagi dengan hari yang mulai malam. Kembali kalimat Mumun berputar-putar dalam kepalaku; muncak pertama dan terakhir.
Mumun semakin terlihat kepayahan. Nafasnya semakin berat. Tangannyapun semakin terasa dingin.
“Coba kamu salurkan tenaga dalam kamu”, ucapku.
“Kamu pikir sedari tadi apa yang kulakukan?”
Oh.. Maklum saja orang awam seperti saya tidak mengerti tentang tenaga dalam sama sekali. Meski kadang melihat Acing beraksi, namun saya tidak pernah dapat memahaminya. Entahlah, aku terlalu pusing dengan keadaan Mumun.
Aku menyuruh menambah selimut Mumun dan menugasi seorang teman untuk memasak air. Dengan air panas dalam botol kucoba menghangatkan tubuh Mumun. Aku sendiri gak yakin apakah itu akan memberikan efek yang signifikan atau enggak. Namun berangsung nafas Mumun mulai normal. Walaupun matanya masih tetap terpejam, tidak sadarkan diri.
Lalu seorang pria masuk ke dalam tenda kami. Sepertinya ia adalah salah satu peziarah yang mendirikan tenda di sebelah atas tenda kami. Setelah berbicara dengan Acing, mereka mendudukkan Mumun dan persis seperti dalam film-film kungfu dia bersila di belakang tubuh Mumun dan meletakkan kedua tangannya di punggung Mumun. Tak lama kemudian Mumunpun siuman.
Aku mulai kembali tenang. Mumunpun sudah mulai bisa menebarkan senyum tipisnya yang manis sekali. Jauh lebih manis dari yang pernah aku lihat sebelumnya. Namun belum puas aku merasakan ketenangan, hujan turun dengan derasnya. Beberapa teman yang semula di luar masuk ke dalam tenda. Dan kejadian yang serupa terjadi untuk kedua kalinya. Mumun kembali kumat.
Kami semakin panik. Tenda tidak mampu menahan derasnya hujan. Kamipun sepakat untuk membawa Mumun mengungsi dari tenda itu ke aula makam Eyang Abiyoso. Beberapa teman menggotong tubuh Mumun yang tak sadarkan diri sedangkan beberapa lagi memayungi tubuhnya dengan jas hujan dan selembar matras.
Setelah setengah berlarian di bawah guyuran hujan dan melalui jalanan becek yang gelap gulita sampailah kami di aula. Tanpa mempedulikan kaki yang penuh lumpur kami usung tubuh Mumun menuju sudut aula yang diterangi sinar lampu petromak. Tidak sekali dua kali terdengar orang berteriak karena anggota tubuhnya terinjak oleh rombongan kami. Ternyata di dalam aula yang gelap tersebut tidak sedikit peziarah yang beristirahat sambil tiduran.
Dan ternyata (lagi) seisi aula tersebut merupakan ahli spiritual maupun pengobatan alternatif. Mengetahui kondisi teman kami, beberapa di antaranya segera membantu. Ada yang mencoba dengan melakukan pijit refleksi, penyaluran tenaga dalam dan beberapa lagi dengan trik-trik yang aneh dan lucu. Tak lama kemudian, Mumun mulai sadar.
Aku hanya mampu menggigil di pojok aula, tanpa jaket bahkan dengan kaos yang sebagian basah. Beberapa teman saya yang lain juga dalam kondisi yang tidak berbeda. Kulirik jam tanganku. Jam 11 malam.
Dan malam itu saya dan teman-teman lainnya pun terjaga hingga pagi. Bersama menjaga Mumun yang kadang masih merasa sesak nafas kembali. Bahkan Wulan dan Lis Jelman, kedua teman Mumun, sempat pingsan juga karena masuk angin.
Meski terasa amat panjang sekali, malampun berganti dengan pagi. Kelegaan terbit dalam hatiku bersamaan dengan rasa bingung. Bagaimana caranya mengajak ketiga teman perempuan kami itu turun ke Rahtawu, desa terdekat. Diminta berjalan kaki jelas sangat berisiko. Di tandupun tidak akan mudah melalui medan yang memiliki tanjakan dan turunan yang amat curam. Melebihi 60 derajat. Sedangkan kanan kiri jalan setapak tersebut adalah jurang yang dalam.
Entah siapa yang menemukan ide tersebut. Yang pasti kami sepakat untuk turun gunung dengan melakukan pengawalan ketat kepada ketiga teman perempuan kami. Mereka bertiga masing-masing kami pasangi tali pada pinggangnya yang kedua ujungnya kami ikatkan pada dua orang yang berada di belakangnya. Sedangkan seorang lagi membantu menuntun dari depan. Meski perjalanan memakan waktu yang lamanya berlipat ganda dan menjadi tontonan setiap orang selama perjalanan. Namun yang terpenting kami selamat menuruni puncak Abiyoso gunung Muria.
Cukuplah ini menjadi pengingat bagi saya dan semua penggiat kegiatan alam bebas untuk melakukan persiapan yang matang dalam setiap pendakian gunung yang dilakukan. Agar tidak terjadi muncak pertama sekaligus muncak terakhir. (Tamat)
Baca juga:
- Jomblo Muncak Abiyoso Dimalam Satu Sura (kisah Abiyoso 1)
- Malam Satu Sura Di Puncak Abiyoso (kisah Abiyoso 2)
- Muncak Pertama Muncak Terakhir (kisah Abiyoso 3)
- Ekspedisi Puncak Argopuro Lasem
- Ekspedisi Puncak Argopuro Lasem #2
- Air Tiga Rasa Di Rejenu
- Bercumbulah Dengan Alam
Anda dapat melihat daftar seluruh tulisan di: Daftar catatan



Assalamu’alaikum,
Mas Alamendah, bila tidak keberatan, saya mohon dukungannya ya, saya lagi mengikuti lomba menulis dalam rangka memperingati hari kemerdekaan kita, diblogdetik.com : http://dakwahdewiyana.blogdetik.com
Terima kasih.
(Dewi Yana)
Assalamu’alaikum,
Mas Alamendah, terima kasih ya.. atas dukungan yang diberikan.
(Dewi Yana)
itu cerita asli bro?
keren kayaknya
pas aq mendaki tuh, aq sebenernya ga punya persiapan apa2. cm pengen aja. dan alhamdulillah semuanya berjalan lancar.
ga th juga klo sampe ada kejadian seperti itu. mungkin aq bener2 panik
blogwalking pak
kapan muncak lagi bro
wow… tetap semangat sang pendaki! 🙂
malam yang indah apalagi kalau berada di puncak gunung
@Ayam Cinta: Ya. Para ahli spiritual dan pengobtan alternatif banyak banget saat itu. Udah kayak konferensi saja.
@mydewiku: Yang terpenting (menurut saya) adalah persiapan.
@Zulhaq: gak nyangka…
@DebyPecundangSejati: Sampe sekarang orangnya gak berani ke puncak gunung yang tinggi. Paling kalo sekedar kegiatan ringan masih berani ngikut.
@jalandakwahbersama: Semoga sukses.
@Rigih: Betul, kisah nyata. Mungkin karena sudah mendapat ‘firasat’ sebelumnya maka lebih siap (?) menghadapi kejadian itu
@didta: sering2 aja…
@widdy: Agustusan ini ada beberapa tawaran dari temen. Da yang mo ke gunung lokal (Muria), Ungaran ama Lawu. Tapi kayaknya gak dulu.
@Fadhilatul Muharram: Terima kasih
@kawanlama95: Emang indah banget
Pendaki gunung harus benar-benar prima kondisi phisiknya, jika tidak akan beresiko kan.
Saya salut kepada orang2 yang mempunyai kegiatan mendaki gunung ini. Sementara teman2nya menikmati cappucino dan burger di cafe, mereka bergulat dengan cuaca yang dingin dan jalan-jalan yang tak selalu mulus.
Angkat topi.
Salam hangat dari pakde di Surabaya.
Kondisinya kok gawat gitu? memang ini musti jadi se buah pembelajaran yg sangat berharga
haduh gambarnya itu gak takut kepeleset apa?
keren mas…
pembawaannya kaya cerpen..
tapi isinya asli..
mbaknya y kog nekat banget..
tpi q kgum sma mbaknya..
demi pengalaman & melihat keindahan ciptaan-Nya, sampe nekat muncak..
good post ^^
that’s why aku ga boleh naik gunung
karena asma sangat berbahaya
Pastinya happy and fun yah Bro 🙂
Mas say bacanya merinding nih…..!
Saya suka kalau dengar orang cerita mendaki tapi apa segitu parahnya ya mas kalau kondisi kita ga fit ga boleh mendaki pada hal kita ingin banget walau badan lg kg sehat…..
Kalo mendaki lg, jgn lupa bwa asmasoho atw asmasolon
saya slalu bwa itu, krna sya jg pnderita asma, hoho
Wuih….akhirnya…. 🙂
Seru juga ceritanya Boz…