Kenapa Harus Platipus Bukannya Ekidna

Teringat dulu saat mempelajari perkembangabiakan pada hewan. Salah satu bagiannya adalah mammalia yang berkembangbiak secara beranak (vivipar) dengan pengecualian ada jenis mammalia yang aneh, bertelur atau ovivar. Guruku memberikan contoh mammalia yang berkembang biak secara bertelur adalah Platipus (platypus). Platipus, dan bukan Ekidna yang justru hewan asli Indonesia.

Kini pun terulang. Beberapa kali saya mendengar teman-teman guru menerangkan tentang keunikan Platipus sebagai mammalia yang berkembang biak secara vivipar. Termasuk di beberapa buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Biologi pun saya jumpai. Memang tidak salah, Platipus adalah mammalia yang bertelur. Namun yang kemudian menjadi pertanyaan saya kenapa harus selalu Platipus? Padahal Indonesia justru memiliki hewan ‘setabiat’, Ekidna.

Kenapa Tidak Ekidna yang Hewan Asli Indonesia?

Hewan dari kelas mamalia memang ada yang unik dalam perkembangbiakannya. Mereka berkembang biak bukan secara beranak tetapi justru bertelur layaknya hewan dari kelas aves (burung) dan reptil. Namun platipus bukanlah satu-satunya contoh untuk hewan tersebut. Apalagi platipus tidak dijumpai hidup di Indonesia.

Mamalia yang bertelur dikelompokkan dalam ordo Monotremata. Anggota ordo ini unik lantaran berbeda dengan mammalia pada umumnya yang melahirkan anaknya, mereka justru bertelur. Hingga saat ini tersisa lima spesies anggota ordo Monotremata yang masih bisa dijumpai. Satu spesies yang paling terkenal di Indonesia adalah Platipus (Ornithorhynchus anatinus). Meskipun sangat terkenal dan kerap dijadikan contoh di Indonesia Platipus (Duck-billed Platypus) bukanlah hewan asli Indonesia. Platipus hanya bisa ditemukan di Australia.

Empat spesies anggota ordo Monotremata lainnya, yang sama-sama bertelur, kerap disebut dengan nama yang sama, Ekidna. Sayangnya empat spesies dari genus Tachyglossus dan Zaglossus kurang dikenal, termasuk jarang digunakan sebagai contoh, meskipun sejatinya hewan-hewan inilah yang hidup dan berkembang biak di bumi Indonesia. Jika Australia memiliki Platipus sebagai mammalia yang bertelur, Indonesia justru memiliki empat spesies Ekidnya yang sama uniknya dengan Platipus, mammalia namun ovivar.

Ekidna Moncong Pendek Tachyglossus aculeatus

Ekidna Moncong Pendek Tachyglossus aculeatus

Penampilan keempat jenis Ekidna ini sekilas lebih mirip landak. Pada badannya terdapat bulu-bulu yang tajam. Ekidnya pun memiliki mocong (berfungsi sebagai mulut dan hidung) yang panjang dan langsing. Jika terancam Ekidna mempunyai kebiasaan menggulungkan badannya. Keempat jenis Ekidna tersebut adalah :

  • Ekidna Moncong Pendek
    Ekidna Moncong Pendek atau Short-beaked Echidna hidup di Pulau Papua (Indonesia dan Papua Nugini) dan Australia. Hewan dengan nama latin Tachyglossus aculeatus dan pemakan semut rayap ini mempunyai populasi yang cukup besar.
  • Ekidna Moncong Panjang Barat
    Ekidna Moncong Panjang Barat atau Western Long-beaked Echidna adalah hewan endemik Indonesia dan hanya bisa ditemukan di pulau Papua, Salawati, Waigeo, dan Batanta, Indonesia. Nama latin hewan pemakan cacing tanah ini adalah Zaglossus bruijini. Termasuk hewan langka yang terancam punah (Status konservasi IUCN Red List : Critically Endangered).
  • Ekidna Moncong Panjang Timur
    Ekidna Moncong Panjang Timur atau Eastern Long-beaked Echidna hidup di Pulau Papua (Indonesia dan Papua Nugini). Nama ilmiah hewan ini adalah Zaglossus bartoni. Layaknya Ekidna Moncong Panjang Barat, jenis Ekidna ini berstatuskan Critically Endangered.
  • Ekidna Moncong Panjang Sir David
    Ekidna Moncong Panjang Sir David atau Sir David’s Long-beaked Echidna mempunyai nama latin Zaglossus attenboroughi. Endemik Indonesia yang hanya bisa ditemukan di Papua bagian utara.

Selengkapnya tentang Ekidna baca : Ekidna Mamalia yang Bertelur

Ekidna Moncong Panjang Barat, Zaglossus bruijini

Ekidna Moncong Panjang Barat, Zaglossus bruijini

Platipus tetap layak dijadikan contoh sebagai hewan mammalia yang bertelur. Namun terasa kurang bijak jika kita melupakan Ekidna yang sama-sama mammalia yang perkembangbiakannya secara ovivar. Padahal jelas-jelas Ekidna adalah salah satu bukti kekayaan hayati bumi Indonesia.

Referensi :

alamendah.org/2011/05/10/ekidna-mammalia-yang-bertelur 
www.iucnredlist.org 
Gambar : commons.wikimedia.org

Baca artikel tentang lingkungan hidup dan satwa Indonesia lainnya :

Iklan

Tentang alamendah

Panggil saja saya Alamendah, tinggal di Pati, Jawa Tengah, Indonesia. Seorang biasa yang ingin berbagi dengan sobat.
Pos ini dipublikasikan di renungan, satwa dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Kenapa Harus Platipus Bukannya Ekidna

  1. ysalma berkata:

    Baru tau saya dengan ekidna ini *namanya unik, seunik caranya berkembang biak.
    selintas saya pikir tadinya memang landak 🙂

  2. Lidya berkata:

    saya masih bingung dengan istilahnya pak

  3. defyan berkata:

    Ekidna monjing paruh panjang (Z.bruijni) terdapat di hampir seluruh Pulau Papua, termasuk PNG (dari dataran rendah sampai ke pegunungan). Zaglossus attenboroughi berdasarkan fosil, hanya terdapat di Pegunungan Cyclops (Kota Jayapura) dan telah dianggap punah… walaupun dalam beberapa tahun terakhir ini ada peneliti yang berusaha meyakinkan keberadaannya dan juga ceritera masyarakat sekitar P. Cycloops, tetapi belum ada bukti fisik keberadaannya.

Tulis Komentar Sobat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s