Pengelolaan Sampah Kesalahan Pola Pikir dan Gaya Hidup

Pengelolaan sampah telah menjadi sebuah permasalahan di Indonesia. Bukan hanya kota-kota besar, kota-kota kecil pun semakin hari semakin dipusingkan dengan sampah dan pengelolaannya. Semakin hari, sampah bukannya semakin berkurang justru sebaliknya semakin menumpuk dan bertambah. Apa sebab?. Mungkin pola pikir kita yang perlu dibenahi. Atau gaya hidup kita yang musti dirubah.

Gaya hidup kita memang sangat akrab dengan sampah. Masih dapat kita ingat ketika Pemkot Bandung begitu putus asanya menghadapi permasalahan sampah beberapa waktu kemarin. Juga ketika Sudin Jakarta Timur kewalahan membersihkan sampah yang volumenya mencapai 6.716 m3 perhari meskipun sudah ditopang oleh 211 unit kendaraan pengangkut sampah dan 120 Tempat Pembuangan Sampah (TPS).

Contoh lainnya, seperti yang ditulis detikbandung (01/01/2009), volume sampah pada perayaan malam Tahun Baru di Bandung Kamis malam (31/12/2009), setara dengan gedung 50 tingkat atau seluas lapangan bola dengan ketebalan 30 centimeter atau sekitar 150 meter kubik.

Jangan Buang Sampah Pada Tempatnya. Kita masih terperangkap dengan pola pikir bahwa sampah harus dibuang. Sejak kecil, orang tua saya, bahkan guru sekolah saya selalu berpesan; ‘Buanglah sampah pada tempatnya’. Mungkin lantaran ini kemudian yang terpatri dalam pikiran saya adalah;

  • Ketika sampah sudah dibuang ke tempat sampah di luar rumah (atau malah ke jalanan dan sungai), maka masalah selesai.
  • Setelah sampah dibuang, kita pun bisa kembali menghasilkan sampah.

Pola pikir yang semacam ini sudah semestinya kita tinggalkan. Haruslah kita sadari apa yang terjadi dengan sampah kita setelah dibuang ke luar rumah, apakah seluruh sampah tersebut langsung hilang ditelan bumi?. Dan apa jadinya jika kita dan seluruh warga kota terus menghasilkan sampah? Apakah lahan di kota akan cukup menampung seluruh sampah kita?

Gaya hidup dan pola pikir kita terhadap sampah dan pengelolaannya musti dibenahi atau bahkan dirubah. Jangan lagi menuliskan kalimat “Buanglah sampah pada tempatnya” karena itu terbukti tidak menyelesaikan permasalahan sampah.

Kurangi dan Daur Ulang Sampah. Pertama, bukan sekedar membuang sampah tetapi yang paling utama adalah kita harus bisa untuk mengurangi sampah yang dihasilkan. Salah satunya adalah dengan membawa kantong belanjaan sendiri atau meminum minuman langsung dari gelas tanpa sedotan plastik.

Kedua, melakukan daur ulang terhadap sampah-sampah yang dihasilkan menjadi barang bernilai manfaat. Jika tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan daur ulang, paling tidak kita bersedia memilah sampah yang dapat didaur ulang dan memberikannya (menjualnya) kepada para pengumpul daur ulang.

Perubahan kecil dalam gaya hidup dan pola pikir ini, saya yakin akan memberikan dampak yang signifikan bagi penanganan masalah sampah dan pengelolaan sampah di sekitar kita.

Referensi: bandung.detik.com; http://www.poskota.co.id; Gambar: google

Baca Juga:

Anda dapat melihat daftar seluruh tulisan di Daftar Catatan

avatar Tidak diketahui

About alamendah

Panggil saja saya Alamendah, tinggal di Pati, Jawa Tengah, Indonesia. Seorang biasa yang ingin berbagi dengan sobat.
Pos ini dipublikasikan di lingkungan hidup dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

190 Responses to Pengelolaan Sampah Kesalahan Pola Pikir dan Gaya Hidup

  1. avatar Eyangresi313 Eyangresi313 berkata:

    Salam perkenalan untuk sahabatku.
    Nice info…….
    Mari bersama-sama mengkampanyeman hidup bersih dan sehat,
    Dengan menjaga kebersihan lingkungan.
    Dimulai dari diri sendiri.

  2. avatar wahyu wahyu berkata:

    go green lifestyle… 🙂
    seharusnya produsen sampah juga diingatkan untuk jualan produk yg lebih ramah lingkungan hmmmm

  3. avatar embun777 embun777 berkata:

    memanfaatkan sampah menjadi pupuk yg bisa menyuburkan tanaman, setelah memisahkan antara sampah yang organik dan non organik.
    perlu perjuangan yg puanjaaaaaaaang… membentuk pribadi2 yg peduli.. akan kebersihan dan penghijauan dengan pemanfaatan sampah se maximal mungkin.

    Semoga Sukses.
    *dimulai dari diri kita masing masing.

  4. avatar wiyono wiyono berkata:

    manstraaaaaaaab bo’ ikutan ah

  5. avatar Hary4n4 Hary4n4 berkata:

    Kita ini kebanyakan terlalu malas.. Sukanya sama yg instan2.. Padahal barang yg instan itu malah sering pake kantong plastik.. Seperti snack misalnya, ini cuma contoh kecil aja.. Atau juga minuman air mineral gelas.. Dimana2 banyak yg gak nyadari, kalo perhari udah berapa banyak tuh sampah.. Anjuran juga sering gak jalan, karna kita sudah terbiasa jadi pembangkang terkungkung dgn pola pikir yg pendek.. Jarang ada yg mau berpikir panjang utk ke depan, apalagi menyangkut hal2 yg dianggap kecil atau remeh…
    Yuk mari kurangi produksi sampah kita…

  6. avatar adityahadi KutuBacaBuku berkata:

    gaya hidup masyarakat kita masih dikungkung tradisi seperti itu sih mas, tindakan tegas juga sepertinya cuma jadi bumerang. perlu pola didik bertahun2 untuk menghilangkan hal ini

  7. avatar yangputri yangputri berkata:

    buanglah sampah pada tempatnya……

  8. avatar Ruang Hati Ruang Hati berkata:

    yang susah itu mengelola sampah masyarakat, hi hi hi
    Selamat ber akhir pekan buat para sahabat semua semoga happy akhir pekannya dan damai beserta keluarga

  9. avatar ningrum ningrum berkata:

    setuju mas alam.. mungkin dengan berubahnya pola pikir dan gaya hidup, maka nantinya akan ditemukan solusi.
    berarti anak-anak SD mulai sekarang juga harus diajari berpikir kritis tentang sampah, misalnya, “kalau sudah dibuang, sampah akan menjalani proses apa saja”. anak-anak sekarang juga pinter-pinter kok 🙂

  10. avatar imadewira imadewira berkata:

    mungkin langkah kecil seperti saya dapat membantu yaitu mengumpulkan kantong plastik belanjaan kemudian menggunakannya kembali ketika diperlukan, lumayan menghemat dan tidak perlu beli kantong plastik lagi.. mungkin cara ini belum banyak membantu, tapi setidaknya kita sudah berusaha.

  11. avatar ceuceusovi ceuceusovi berkata:

    iya.. sampah sudah menjadi masalah besar di negara ini. Coba lihat di Bandung, Jakarat.. duh gunungan sampah merusak keindahan alam. Perlu kesadaran luas dari masyarakat dalam hal pengelolaan sampah yang sebenarnya bisa dimulai di lingkungan paling kecil yaitu rumah tangga. Saya pernah menulis buku pengayaan untuk anak sekolah tentang upaya menanggulangi masalah sampah dengan cara menjadikannya pupuk cair. Caranya mudah banget.. sempat terpikir untuk mempraktekkan program itu di lingkungan rumah saya.. ( walau belom kesampian.. )

    hal paling sederhana yang dpt kita lakukan untuk menanggulangi masalah sampah adalah memisahkan sampah organik dan an organik sejak dari rumah, mengurangi jumlah sampah misal dengan membawa kantong plastik dr rmh saat belanja ke pasar, dll…

  12. avatar ceuceusovi ceuceusovi berkata:

    heheh.. gini ni.. kalo baca postingan ga sampai selesai.. komeng saya sudah ada dipostingan itu… maap..maap..

    intinya : ubahlah cara pandang kita terhadap sampah. “Sampah adalah bukan barang yang harus dibuang.. !” tapi… “sampah adalah barang yang harus dikelola.. ” …

  13. avatar ceuceusovi ceuceusovi berkata:

    tuh.. salah lg kan.. belepotannya kumat… !!
    maksudnya… jika pandangan sebelumnya adalah : sampah adalah barang yang harus dibuang.. maka sekarang pandangan itu harus diubah menjadi : sampah adalah barang yang harus dikelola.. !!

    gitu pak menteri maksud saya… 🙂

  14. avatar kw kw berkata:

    sudut pandang yang sungguh inspiratip.
    keren mas
    🙂

  15. avatar arsumba arsumba berkata:

    Betul mas, mulai dari sendiri untuk meminimalis munculnya sampah..
    Dan sepertinya proses daur ulang benar2 baik sangt dibuthkn..

Tinggalkan Balasan ke Ruang Hati Batalkan balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.