Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan satu dari tiga subspesies Gajah Asia. Subspesies Gajah Asia (Elephas maximus) selain Gajah Sumatera adalah Gajah Asia (Elephas maximus maximus) yang terdapat di Srilangka dan Gajah India (Elephas maximus indicus) yang terdapat di Asia Tenggara dan India. Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang mempunyai nafsu makan besar (hingga 150 kg seharinya) bisa dijumpai di pulau Sumatera Indonesia. Binatang ini juga ditetapkan sebagai Fauna Identitas Provinsi Lampung.
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) hanya berhabitat di pulau Sumatera Indonesia. Populasinya tersebar di tujuh provinsi yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung. Meskipun sebaran habitatnya luas ternyata populasinya menurun drastis. Karenanya UICN Redlist menggolongkan binatang besar ini dalam kategori Endangered sejak tahun 1996.
Ciri-ciri Gajah Sumatera
Gajah sumatera secara umum mempunyai ciri badan lebih gemuk dan lebar. Pada ujung belalai memiliki satu bibir. Berbeda dengan Gajah Afrika, Gajah Sumatera memiliki 5 kuku pada kaki depan dan 4 kuku di kaki belakang. Berat gajah sumatera dewasa mencapai 3.500-5000 kilogram, lebih kecil dari Gajah Afrika.
Rata-rata Gajah Sumatera dewasa dalam sehari membutuhkan makanan hingga 150 kilogram dan 180 liter air. Dari jumlah itu, hanya sekitar 40% saja yang mampu diserap oleh pencernaannya. Untuk memenuhi nafsu makan ini Gajah Sumatera melakukan perjalanan hingga 20 km perharinya. Dengan kondisi hutan yang semakin berkurang akibat pembalakan liar dan kebakaran hutan, tidak heran jika nafsu makan dan daya jelajah bintang berbelalai ini sering terjadi konflik dengan manusia.
Sebagaimana spesies gajah asia lainnya, Gajah Sumatera tidur sambil berdiri. Selama tidur, telinganya selalu dikipas-kipaskan. Ia mampu mendeteksi keberadaan sumber air dalam radius 5 kilometer. Gajah Sumatera, mengalami masa kawin pada usia 10-12 tahun. Dan akan melahirkan anak 4 tahun sekali dengan masa mengandung hingga 22 bulan.
Populasi dan Konservasi Gajah Sumatera
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dikategorikan dalam Endangered oleh UICN Redlist. sementara itu CITES (Convention on International Trade of Endangered Fauna and Flora / Konvensi tentang Perdagangan International Satwa dan Tumbuhan) telah mengkategorikan gajah Sumatera dalam kelompok Appendix I.
Berdasarkan salah satu survey yang dilakukan pada tahun 2007, populasi satwa ini di seluruh pulau Sumatera tinggal 2400-2800 ekor. Populasinya tersebar di tujuh provinsi yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung. Bahkan diyakini sejak 2007 telah menghilang dari Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas.
Berkurangnya populasi gajah di alam selain karena adanya perburuan, juga disebabkan oleh semakin berkurangnya luasan habitat gajah. Pengurangan habitat gajah secara nyata ini karena berubahnya habitat gajah sumatera menjadi perkebunan monokultur skala besar (sawit, karet, kakao) yang telah menggusur habitat gajah sumatra.
Selain itu hal ini juga telah membuat gajah terjebak dalam blok-blok kecil hutan yang tidak cukup untuk menyokong kehidupan gajah untuk jangka panjang, di sisi lain hal ini juga yang menjadi pemicu terjadinya konflik antara manusia dengan gajah.
Nasib Gajah Sumatera ini memang tidak jauh berbeda dengan Harimau Sumatera, Kambing Hutan Sumatera ataupun Badak Sumatera. Kasihan.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia. Filum: Chordata. Kelas: Mammalia. Ordo: Proboscidea. Famili: Elephantidae. Genus: Elephas Spesies: Elephas maximus. Upaspesies: Elephas maximus sumatranus
Referensi: http://www.terranet.or.id; http://www.iucnredlist.org; http://www.wwf.or.id; Gambar: http://www.mediaindonesia.com
Baca Juga:
- Orangutan Wajib Sekolah Di Pusat Rehabilitasi
- Satwa Indonesia yang Telah Punah
- Harimau Sumatera Semakin Langka
- Burung Maleo Si Langka Anti Poligami
- Kambing Hutan Sumatera Masihkah Tersisa
- Badak Jawa Satwa Terlangka Di Dunia
- Hindari Kepunahan Penyu
- Satwa Indonesia yang Dilindungi
- Belalang Sembah Rela Mati Demi Cinta
- Tapir Asia Terperangkap Di Sumatera
Anda dapat melihat daftar seluruh tulisan di Daftar Catatan



Wah..wah..wah…banyak banget ya? Kalau ada 10 ekor aja makannya udah 1,5 ton. Ternyata besar juga pengeluaran pelihara gajah, padahal rencananya saya mau pelihara anak gajah. Hehehehehe…..
Sebentar lagi Hari Ibu
Jika tak ada beras di gentong Ibu
Jika tak ada seteguk air di kendi Ibu
Jika tak ada lembaran rupiah dibawah kasur Ibu
Mengapa tak mengirimnya masakan lezat
Untuk persembahan kepad Ibunda di hari Istimewa
Persembahkan hasil masakan anda dan daftarkan dalam acara SupermanShow di
http://abdulcholik.com/kuliner/supermanshow-la-tetates-de-timbele
Salam hangat dari Surabaya
Hmmm kasihan juga dia tidurnya berdiri. Lalu kapan dia duduk atau berbaring-2?
Waduuuh, banyak bener ya…!
Habitat mereka yg terusik, membuat gajah sumatera ini sering ‘jalan-jalan’ ke pemukiman penduduk untuk memenuhi kebutuhannya ini… 🙂
Waduh.. gak kebayang deh10 tahun mendatang .. kalau hutan kita semakin banyak berkurang.. kasihan juga ya gajah2 itu.. habitatnya semakin terganggu aja ya.. postingan yg ok sob…
BUSET!! sehari makan segitu. berat rata2 nya berapa ya??
makanan gajah segitu memang sudah sesuai dengan besar badannya. Cuman gajah itu yang paling besar apanya ya?
Buntingnya dua tahun +_+
Lama banget …
walah.. capek deh… untung 150 kilo tuh bukan nasi, gak jkebayang deh, bisa-bisa cuma dia aja yang gendut, kitanya kurus… hehehe…
sedj
hemm…sesuai ya ma berat badanya..
lampung lagi..!!!!! *pongah*
numpang comment,,, aq blogger baru,,, blog nya mas alamendah bagus bgt,,,
sukses selalu,,,
150 kg / hari ? wuiiihh banyak banget ya ?!
pantes aja, badannya guede ya .. hehehe
Cara Membuat Web
Kalo setiap hari 150 kg, gmana kalo manusia yg seprti itu?
salam kenal…
kalomanusia makan sebanyak itu ya jadi raksasa….
Makanya cepat punah dia, sumber makannya dihabiskan manusia
manusia emang lebih rakus daripada manusia….