Kebakaran hutan kembali melanda beberapa wilayah di Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia lebih mirip sebuah ulang tahun yang terus terulang setiap musim kemarau di setiap tahunnya. Meskipun telah menjadi bencana rutin yan terjadi setiap kali musim kemarau, namun kebakaran hutan dan lahan tetap tidak dapat tertanggulangi dengan efektif
Tahun 2009 ini, ‘pesta’ ulang tahun kebakaran hutan itu kembali terjadi. Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan beberapa wilayah di Sulawesi adalah daerah yang paling parah. Kebakaran hutan dan lahan tahun ini diyakini tiga kali lebih parah dibandingkan tahun 2008 kemarin.
Penyebab kebakaran hutan yang terjadi saat ini, mayoritas dilakukan dengan sengaja oleh perusahan minyak kelapa sawit dan hutan tanaman industri untuk melakukan pembukaan lahan perkebunan dengan cepat. Tingkat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia ini menempatkan hutan Indonesia sebagai hutan dengan tingkat kehancuran paling cepat di dunia!. Bahkan kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 1997/1998 telah melenyapkan hutan seluas 9,8 juta hektar sekaligus menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat polusi terbesar ketiga di dunia.
Hingga awal September 2009, tercatat sedikitnya 2.000 hutan telah terbakar di Kalimantan Tengah dengan sekitar 709 titik api. Bahkan berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebutkan, hingga Agustus 2009 jumlah lahan dan hutan terbakar di Indonesia mencapai 3.626,4 ha. Walhi juga mendeteksi adanya 24.176 titik api di seluruh Indonesia, di mana yang tertinggi berada di Kalimantan Barat.
Jika prediksi terjadinya kemarau panjang di Indonesesia sebagai akibat dampak el nino benar-benar terjadi, bisa dibayangkan pesta ulang tahun ebakaran hutan kali ini akan semakin menggelora dan menyisakan sederet dampak. Mulai dari rusaknya hutan sebagai habitat satwa dan flora, menyebarkan emisi gas karbon dioksida ke atmosfer, hingga masalah asap yang menyebabkan gangguan di berbagai segi kehidupan masyarakat antara lain kesehatan, transportasi, ekonomi dan hubungan tata negara.
Indonesia sejak tahun 1999 sebenarnya telah mempunyai hukum untuk pembakar hutan. Hukum yang mulai diperkenalkan pada 1999 setelah kebakaran hutan pada 1997/1998 ini menyebutkan hukuman hingga 10 tahun penjara dan denda 10 miliar rupiah. Selain itu MUI (majlis Ulama Indonesia) juga telah mengeluarkan fatwa haram bagi para pelaku pembakaran hutan dan lahan. Namun lagi-lagi, implementasi di lapangan tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Kurang tegasnya pemerintah dalam menindak para pelaku pembakaran hutan dan lahan ini masih diperparah juga dengan minimnya sarana, prasarana dan pengetahuan para petugas pemadam kebakaran yang menangani kebakaran hutan. Sebuah ironi, bencana yang mirip ulang tahun, rutin terjadi setiap tahun, ternyata belum mampu diantisipasi dengan baik. Atau mungkin ini dipandang; “Itu mah, biasa. Ntar kalau ada hujan pasti padam sendiri”.
Referensi:
- http://sains.kompas.com/read/xml/2009/09/08/15440098/Walhi..3.626.Ha.Hutan.dan.L
- ahan.Terbakar
- http://www.greenpeace.org/seasia/id/news/kebakaran_hutan
- Gambar: http://www.ehponline.org/docs/2007/115-1/fire.jpg
Baca juga:
- Indonesia Waspada Bahaya El Nino 2009
- Manusia, Khalifah Penjaga Kelestarian Alam
- Tingkat Pencemaran Udara Di Indonesia
- Ekspedisi Puncak Argopuro Lasem
- Perilaku Bijak Di Hutan
- Kerusakan Hutan (Deforestasi) Di Indonesia
- Suaka Margasatwa Balai Raja Lenyap
- Daftar Taman Nasional Di Indonesia
Anda dapat melihat daftar seluruh tulisan Alamendah’s Blog di: Daftar Catatan



Aku datang cuma numpang komen sob
salam kenal
aku juga numpang mejeng yaaaaaaaaa
Kebetulan ada kak rita disini..kak,itu captcha dihilangin dasir kerepotan komennya.kasihan inetnya pake hp nih..
@dasir:
Bukan hanya hutan yang hancur. Kesehatan, keragaman hayati, perekonomian sampai pendidikan ikut terkena imbasnya.
@Rita Susanti:
Nah, kan… Kasian Si Budi, udah gagal main bola ditambah gak bisa sekolah.
@websmaster info:
Silahkan. Tapi ikutan baca, kan?
@dasir (lagi):
he.. he.. Moga Mbak Ritanya gak keburu pergi.
dooooooooooohhhhh.. pigi kamana si CACHA.. kasihan mas DASIER.. ditinggalin
apakah kalau hutannya sudah habis masih di peringati juga…,
ngeri melihat bencana kebakaran selalu terjadi tiap tahunnya, semoga ini segera berakhir…
kenapa selalu pemerintah yang di kalungkan logo ‘kurang tegas’?!!??! apa masayarakat sekitar gag punya andil dengan terjadinya hal serupa?!??!
Apa Kabar saudaraku..?? maaf lama tak kunjung..Insya Allah akan ku eratkan tali silaturahmiku di rumah sahabat-sahabatku.. 😀
banyak sudah negeri ini kehilangan ladang hutan yang habis di telan keegoisan manusia..belum lama ku dengar lapisan Ozone yg melindungi lapisan kulit bumi, kian menipis dan mengakibatkan panas yang luar biasa dan akhirnya negeri ini terkena badai el-nino yg mengakibatkan banyaknya kebakaran hutan seperti yang kau sebutkan Om..sedih rasanya menyaksikan alamku tak hijau lagi..dan tak dijaga sesuia fungsi nya..hanya akibat ulah rakus manusia..
Dalam setiap ucapan terselip khilaf dan hati yang berprasangka, Minal Aidin Wal Faidzin mohon dibukakan pintu maaf lahir & bathin saudaraku.. selamat Idul fitri 1430 H mari sambut hari yang fitri dengan hati yang bersih..
-salam- ^_^
sami sami kang Haries urang silih hampuranya..
dan maaf kebakaran hutan itu sebuah kesengajaan untuk mencari lahan yang baru . abis alang2nya banyak seeh . beneran kang tanya aja tuh di di lahan di riau . di Tv juga udah ada. Postingan ini perlu diapresiasi
kasihan hutan ya.. kebakaran mulu 😀
salam kenal… kunjungan perdana niiih 😀
@tyan’s:
Apa mesti habis dulu hutannya biar gak ada kebakaran hutan, gitu?
@antokoe:
Sama, ngeri!
@genial:
1.yang namanya masyarakat pastilah terdiri atas individu yang berbeda-beda. Ada yang sadar, ada yang gak. Ada yang baik, ada yang jahat. Tugas pemerintahlah untuk menegakkan hukum dan keadilan.
2. Setelah menjadi bencana rutin, kok pemerintah terkesan belum mempunyai program yang top markotop lagi jitu dalam menghadapi masalah kebakaran hutan.
3. Btw, kita juga haruis sadar bahwa seperti ini menuntut kepedulian bersama dari semua lapisan masyarakat, pemegang HPH, pemda dan pemerintah pusat.
@Hariez:
1. Amien
2. Saya juga sedih sekali.
3. Sama-sama
(kok jawabannya singkat semua?)
@kawanlama95:
Harusnya emang begitu.
@indahrephi:
Semoga gak kuciwa dikunjungan pertama. Salam kenal kembali.
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank
I Love U fuuulllllllllllllllllll..
habiss hutankuuuu…ikut terkena dampak asapnya, rejeki buat para dokter…banyak asma yg kambuh seh
salam kenal, tak kirain mbak…ternyata….mas tho
impactnya langsung ke masyarakatnya lo mas, wuih… bumi semakin panas, abunya berterbangan kemana – mana, kabut lagi…
pokoknya menambah berkah ramadhan deh mas 😀
Disuruh semakin tabah menjalani puasa di musim kering seperti ini…
Save our Forest…
🙄 iklan kondom
hahaha…kangBoed aya-aya wae..ya Om..
apa kabar Om..??
sungguh menyedihkan, apalagi dilakukan dengan ‘sengaja’
Saya kok gak habis pikir bahwa dampak asapnya terasa kemana-mana masih dilakukan juga ya. Mungkin bagi pengusaha kelapa sawit itu cara ini yang paling effisien kali ya? Sangat sedih kalo lihat di televisi, berita ini selalu terulang tiap tahun.
Trims Mas atas artikelnya. Salam
hutan…
lindungilah…
jangan dibakar dengan sengaja…
hanya untuk kepentingan pribadi…
Tak terasa Ramadhan akan segera berlalu
dan hari raya pun sudah diujung mata…..
dimana semua umat Muslim merayakan
hari kemenangan itu….
untuk itu mohon ijinkan saya untuk mengucapkan
“MINAL AIDIN WAL FA IDZIN, MOHON MAAF LAHIR & BATIN”
1 SYAWAL 1430 H
Mohon maaf jika ada salah dan khilaf baik yang disengaja maupun tidak