Kura-kura Hutan Sulawesi (Leucocephalon yuwonoi) nan Langka

Kura-kura hutan Sulawesi atau kura-kura paruh betet (Sulawesi Forest Turtle) yang dalam bahasa latin disebut Leucocephalon yuwonoi memang kura-kura langka. Kura-kura hutan sulawesi (kura-kura paruh betet) termasuk salah satu dari 7 jenis reptil paling langka di Indonesia. Bahkan termasuk dalam daftar The World’s 25 Most Endangered Tortoises and Freshwater Turtles—2011 yang dikeluarkan oleh Turtle Conservation Coalition.

Kura-kura hutan sulawesi yang dipertelakan pada tahun 1995 ini sering disebut juga sebagai kura-kura paruh betet. Ini lantaran bentuk mulutnya yang meruncing menyerupai paruh burung betet.

Dalam bahasa Inggris kura-kura hutan sulawesi yang endemik pulau Sulawesi ini disebut sebagai Sulawesi Forest Turtle. Sedangkan resminya, kura-kura ini mempunyai nama latin Leucocephalon yuwonoi (McCord, Iverson & Boeadi, 1995) yang bersinonim dengan Geoemyda yuwonoi (McCord, Iverson & Boeadi, 1995) dan Heosemys yuwonoi (McCord, Iverson and Boeadi, 1995). Dahulunya kura-kura hutan sulawesi digolongkan dalam genus Heosemys, namun sejak tahun 2000 dimasukkan dalam genus tunggal Leucocephalon. Kata ‘yuwonoi’ dalam nama ilmiahnya merujuk pada Frank Yuwono yang kali pertama memperoleh spesimen pertama kura-kura hutan sulawesi ini di pasar di Gorontalo Sulawesi.

Kura-kura Hutan Sulawesi (Leucocephalon yuwonoi)

Kura-kura Hutan Sulawesi (Leucocephalon yuwonoi)

Ciri-ciri. Kura-kura hutan sulawesi (Leucocephalon yuwonoi) berukuran sedang dengan karapas sepanjang 28 – 31 cm (jantan) dan 20 – 25 cm (betina). Daerah sebarannya hanya terdapat di pulau Sulawesi bagian utara. Karenanya hewan langka ini merupakan hewan endemik pulau Sulawesi, Indonesia dan tidak ditemukan di daerah lain.

Tidak banyak yang diketahui tentang perilaku alami kura-kura hutan sulawesi ini. Kura-kura hutan sulawesi yang merupakan hewan diurnal banyak menghabiskan waktu di hutan dan hanya berpindah ke air ketika malam untuk beristirahat dan melakukan perkawinan.

Populasi dan Konservasi. Pada tahun 1990-an diperkirakan populasi kura-kura hutan sulawesi (Leucocephalon yuwonoi) masih sangat melimpah namun saat ini diperkirakan populasinya di alam liar tidak mencapai 250 ekor.

Ancaman utama populasi kura-kura langka ini adalah perburuan dan perdangan bebas sebagai bahan makanan dan hewan peliharaan. Pada awal tahun 1990-an, sekitar 2.000 – 3.000 ekor diperkirakan diperdagangkan ke China sebagai bahan makanan. Selain itu kura-kura hutan sulawesi (Leucocephalon yuwonoi) juga banyak diekspor ke Eropa dan Amerika sebagai hewan peliharaan.

Selain perburuan, rusaknya habitat akibat kerusakan hutan (penebangan kayu komersial, pertanian skala kecil, dan pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit) juga menjadi ancaman bagi kelangsungan populasi kura-kura hutan sulawesi (Leucocephalon yuwonoi). Hal ini diperparah oleh rendahnya tingkat reproduksi kura-kura hutan sulawesi (Sulawesi Forest Turtle).

Leucocephalon yuwonoi (kura-kura hutan sulawesi atau kura-kura paruh betet)

Leucocephalon yuwonoi (kura-kura hutan sulawesi atau kura-kura paruh betet)

Lantaran jumlah populasi yang sedikit dan sifatnya yang endemik, sang kura-kura paruh betet ini oleh IUCN Red List dikategorikan sebagai spesies Critically Endangered (sangat terancam punah). Bahkan The Turtle Conservation Coalition, sebuah koalisi konservasi kura-kura yang terdiri atas berbagai lembaga konservasi seperti IUCN/SSC Tortoise and Freshwater Turtle Specialist Group, Wildlife Conservation Society (WCS), Turtle Survival Alliance (TSA), Conservation International (CI) dan lainnya memasukkan kura-kura hutan sulawesi sebagai salah satu dari 25 Kura-Kura Paling Langka dan Terancam Punah Di Dunia (The World’s 25 Most Endangered Tortoises and Freshwater Turtles) Tahun 2011.

Organisasi perdangan satwa dunia, CITES, juga telah memasukkan kura-kura hutan sulawesi (Leucocephalon yuwonoi) dalam daftar CITES Apendix II. Dengan demikian perdagangan internasional kura-kura langka dan endemik Sulawesi ini tidak diperbolehkan.

Jika berbagai organisasi konservasi dunia menaruh perhatian bagi kelestarian kura-kura paruh betet (Sulawesi Forest Turtle) bagaimana dengan pemerintah Indonesia?. Inilah yang aneh. Di Indonesia kura-kura hutan sulawesi ternyata bukan termasuk satwa yang dilindungi.

Klasifikasi ilmiah. Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Reptilia; Ordo: Testudines; Famili: Geoemydidae; Genus: Leucocephalon; Spesies: Leucocephalon yuwonoi.

Referensi dan gambar:

Baca artikel tentang fauna dan lingkungan hidup lainnya:

Tentang alamendah

Panggil saja saya Alamendah, tinggal di Pati, Jawa Tengah, Indonesia. Seorang biasa yang ingin berbagi dengan sobat.
Pos ini dipublikasikan di satwa dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

50 Balasan ke Kura-kura Hutan Sulawesi (Leucocephalon yuwonoi) nan Langka

  1. kips berkata:

    Ternyata ada juga kura-kura yang lebih senang hidup dihutan, itu bentuknya seperti agak bulat persegi ya 😀

  2. Hasya berkata:

    keren,, baru tahu ada kura2 jenis ini ..
    thanks for share

  3. gadgetboi berkata:

    kalayknya kalau posting fauna kok langka semua … :mrgreen: sedih bacanya …

  4. ahsanfile berkata:

    Wah kalo mau tau tentang cites dengan lengkap, aku tau mas, tiap hari aku nangangin data peredaran cites di indonesia…

    cieeee nggaya banget …

  5. Citro berkata:

    kura-kura yang satu ini suka kawin basah ya

  6. andinoeg berkata:

    mas, aku punya pohon mangga udah 6 tahun ditanam. baru kali ini berbuah, lumayan banyak walau belum besar. masalahnya kok banyak yang jatuh ya? kira2 knp kok bisa gitu? trus dikasih apa biar gak rontok buahnya?

  7. ahsanfile berkata:

    Komentarku koq ilang mas,

  8. agus suratno berkata:

    bagus infonya

  9. Fonega berkata:

    bedanya sama yang lain apa om? prasaan kura2 modelnya ya gitu gitu aja? –‘

  10. Lidya berkata:

    saya suka lihat kura-kura diperjual belikan pak, sebenernya gimana ya?boleh atau tidak?

  11. bintangtimur berkata:

    Di Indonesia jenis kura-kura ini bukan termasuk hewan yang dilindungi?
    Aneh sekali…

  12. bundadontworry berkata:

    lho kok?
    katanya jumlahnya hanya tinggal sedikit, kok tapi gak termasuk yang dilindungi ya Mas Alam?
    salam

  13. dediyuliadi berkata:

    Makasih banyak informasinya semoga tetap lestari

  14. Agung Rangga berkata:

    hoo, ternyata kura-kura ada di hutan juga ya~ 😯

  15. Mabruri Sirampog berkata:

    waahh,,, species langka, harusnya dilindungi ya…

    dulu pernah miara kura-kura,, tpi ilang dimakan kucing kayanya bang.. 😀

Tulis Komentar Sobat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.