Kodok Merah atau Leptophryne cruentata merupakan jenis kodok endemik yang langka. Kodok Merah merupakan spesies ampibi endemik Jawa Indonesia yang hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.
Kodok Merah pun menjadi salah satu hewan langka yang terancam punah. Sehingga tidak berlebihan jika kemudian IUCN Redlist mencatatnya dengan status Critically Endangered (Kritis). Meskipun di Indonesia sendiri Kodok ini luput dari daftar satwa yang dilindungi.
Kodok Merah sering kali disebut juga sebagai Katak Darah. Kodok Merah dalam bahasa Inggris disebut sebagai Bleeding Toad atau Fire Toad. Sedangkan dalam bahasa latin (nama ilmiah) hewan ini disebut Leptophryne cruentata. Nama latinnya ini mempunyai arti kurang lebih ‘berdarah’.
Diskripsi, Ciri, dan Populasi. Kodok Merah (Leptophryne cruentata) berukuran kecil dan ramping. Ciri khasnya adalah wana kulitnya yang dipenuhi bintik-bintik berwarna merah darah. Kulit katak merah berwarna hitam dengan bintik-bintik merah atau kuning atau putih marmer. Lantaran warna merahnya yang menyerupai darah, kodok ini biasa disebut juga sebagai katak merah.
Kodok ini menyukai daerah dekat air yang mengalir deras di daerah berketinggian antara 1.000 – 2.000 meter dpl. Habitatnya hanya diperkirakan hanya terdapat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Selebihnya tentang perilaku Kodok Merah (Bleeding Toad) belum banyak yang diketahui.
Pada tahun 1976 diperkirakan populasi katak ini masih sangat melimpah. Pada tahun 1987 dan paska meletusnya gunung Galunggung populasinya mulai jarang ditemui. Saking langkanya pada periode 90-an hingga 2003 hanya dapat ditemukan satu ekor Kodok Merah di sekitar air terjun Cibeureum.
Karena daerah sebarannya yang sangat sempit (endemik lokal) dan populasinya yang menurun drastis IUCN Redlist memasukkannya dalam daftar spesies Critically Endangered (Kritis) yang merupakan tingkat keterancaman tertinggi sebelum punah.
Sayangnya, meskipun populasinya sangat sedikit dan sebarannya yang sangat sempit, hewan langka, hewan endemik, sekaligus hewan unik ini tidak termasuk dalam satwa yang dilindungi di Indonesia.
Mungkin pemegang kebijakan di negeri ini terlalu menganggap remeh seekor kodok. Padahal kodok dan katak mempunyai peran penting sebagai indikator perubahan lingkungan. Dan yang tak kalah pentingnya, Kodok Merah merupakan salah satu aset negeri ini yang dititipkan kepada kita.
Kalsifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Amphibia; Ordo: Anura; Famili: Bufonidae; Genus: Leptophryne; Spesies: Leptophryne cruentata.
Referensi dan gambar:
-
amphibiaweb.org/cgi/amphib_query?where-genus=Leptophryne&where-species=cruentata
-
calphotos.berkeley.edu/cgi/img_query?enlarge=0000+0000+0709+0068 (gambar)
Baca artikel tentang satwa langka dan alam lainnya:




Hmmm kalau di komik silat .. kodok merah disantap buat menambah kesaktian .. he he he .. Sayang sekali kalau sampai punah ya …
Padahal pak Iksa belum pernah nyobain…
hehehehe
saya juga belum pernah nyobain
Kodok dan Katak itu apa beda Mas?
Beberapa ahli emmang berusaha membedakan penggunaan Katak dan Kodok. Katak biasanya untuk jenis yang berkulit kasar berbintil-bintil sampai berbingkul-bingkul, kerapkali kering, dan kaki belakangnya sering pendek saja, sehingga kebanyakan kurang pandai melompat jauh. Sedangkan Kodok umumnya berkulit halus, lembab, dengan kaki belakang yang panjang.
tapi dimasyarakat kita kedua kata tersebut seringkali dipertukarkan dan dianggap sama. Termasuk saya juga. Hehehehehe
Sedang dalam bahasa ilmiah keduanya dikelompokkan dalam satu ordo; Anura.
yang pastinya huruf huruf nya yang beda kalau kodok pakai huruf “o” nak
manggut-manggut…
hehehe, iya neh sama kek mas yang di atas, jadi inget wiro sableng. Hehe
Saya sudah lama gak baca Wiro Sableng sama Sinto Gendeng…
saya kenal wiro sumung sama situ gintung
Ighhh…. kulitnya kayaknya kalo dipegang kulitnya menjijikan banget….
Kecuali kodok Muffet pasti gak ada yang jijik…
kalau kodok muffet mah bikin ketiduran kang
wah eksotis banget kodoknya …..
lagi2 ane belum pernah lihat wujud dari kodok merah secara langsung
Wow, seingat saya waktu baca buku fauna waktu saya mash kecil, kalo ada kodok warna cerah, dia pasti beracun. 😀
iya kayake kodoke beracun mas
Kodok merah meriah euy…..sayang banget klo sampai punah.
Salam Takzim
Warna nya yang merah membuat kodok ini indah kang
Salam Takzim Batavusqu
Kabarnya katak atau kodok, bisa meramal perubahan cuaca, ya Mas.. CMIIW
great posting….
katak merah harusnya masuk jadi hewan yang dilindungi!
Wakil rakyat lagi sibuk ngurusin gedung baru hihihihihi 🙂
Salam,
Seru Jadi Guru 🙂
Sekedar penasaran gan,
sebenernya blog alamendah yang berisi artikel tentang hewan” langka yang anda tulis berdasarkan penelitian anda atau berasal dari sumber” lain yang kemudian anda blog kan?
Mengingat di daerah saya ada beberapa jenis hewan yang langka (mungkin di daerah lain) tapi di daerah saya masih banyak terdapat seperti, burung rangkong ada 4 spesies, harimau sumatra, kambing hutan, burung panca warna, dan mash banyak lagi spesies langka lain nya,
di karnakan di daerah saya sering dan banyak aktifitas perburuan liar oleh orang2 yang tak bertanggung jawab, saya pribadi berniat mengundang anda atau pecinta satwa lain nya untuk melakukan penelitian,
Itu taman nasianalnya dimana pak?
bener juga tuh mas, kodok merah itu sekarang sudah langka sekali gan, ane juga jarang banget liat kodok merah itu