3 Mei 2013 12:49 am
Ikan napoleon, napoleon wrasse, atau Cheilinus undulatus di satu sisi menjanjikan keuntungan yang sangat tinggi dan menjadi sumber penghidupan bagi nelayan. Namun di sisi lain ikan ikan karang berukuran besar ini menjadi salah satu hewan langka dengan status endangered (Terancam Punah) oleh IUCN Red List dan terdaftar dalam Appendix II CITES yang perdagangannya dibatasi. Ikan napoleon terjepit antara komoditas ekonomi dan konservasi.
Ikan napoleon dalam bahasa Inggris dikenal dengan beberapa nama seperti Giant Wrasse, Humphead, Humphead Wrasse, Maori Wrasse, Napoleon Wrasse, Truck Wrasse, dan Undulate Wrasse. Sedangkan nama ilmiah hewan ini adalah Cheilinus undulatus.
Ikan napoleon adalah jenis ikan karang berukuran besar yang hidup di perairan tropis. Ukuran ikan napoleon bisa mencapai 2 meter dengan berat 190 kg. Saat muda, ikan napoleon terlihat pucat dengan garis-garis vertikal yang lebih gelap. Setelah menginjak dewasa, warna tubuhnya berubah hijau kebiru-biruan dengan garis-garis yang lebih jelas. Pada bagian atas kepalanya dan di atas mata terdapat bejolan yang khas semacam punuk. Bibirnya terlihat tebal dan besar. Ciri khas lainnya adalah terdapatnya guratan-guratan tidak beraturan pada wajah. Sekilas penampakan ikan napoleon tampak layaknya ‘Si Buruk Rupa’.
Sebagai ikan karang, ikan napoleon (Cheilinus undulatus) mendiami daerah karang di kawasan tropis dengan kedalaman antara 2 – 60 meter dan hidup secara soliter. Daerah persebarannya meliputi Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Wilayah ini termasuk beberapa tempat di Indonesia seperti perairan di kepulauan Anambas, dan perairan Wakatobi.
Makanan ikan langka ini adalah moluska, ikan kecil, bulu babi, udang-udangan, kerang-kerangan, teripang, cacing laut dan avertebrata lainnya. Ikan ini mencari makanannya dengan cara menghancurkan karang-karang mati dengan giginya yang besar. Bahkan giginya pun mampu memecahkan cangkang kerang untuk kemudian mengambil dagingnya.
Ikan napoleon merupakan hewan hermafrodit atau dapat berganti kelamin. Ikan-ikan napoleon yang terlahir sebagai betina, saat dewasa dapat mengubah kelaminnya menjadi jantan.
Ikan napoleon (Cheilinus undulatus) menjadi komoditas ekonomi yang sangat menggiurkan. Ikan ini diperjualbelikan baik sebagai ikan hias ataupun terutama sebagai ikan konsumsi yang berharga mahal di beberapa negara etnis China. Satu kilogram ikan ini dihargai sangat mahal yaitu antara Rp. 500 ribu hingga Rp. 700 ribu. Hal inilah yang membuat perburuan ikan ini senantiasa marak.
Padahal status ikan karang ini sangat memprihatinkan. IUCN Red List memasukkannya dalam spesies berstatus endangered (terancam punah) sedangkan CITES mendaftarnya sebagai Appendix II (perdagangannya dibatasi dan diawasi ketat). Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) pun telah mengatur penangkapan dan perdagangan ikan napoleon ini semisal memberikan kuota untuk masing-masing daerah serta ketentuan berat ikan yang boleh diekspor hanya ikan napoleon dengan berat antara 1 – 3 kg saja.
Namun semakin hari ikan bermuka jelek tetapi bernilai ekonomi yang tinggi ini semakin terancam kelestariannya. Perburuan liar dan perdagangan ilegal terus terjadi bahkan dengan cara-cara yang merusak alam serta melebihi kuota dan ketentuan yang telah ditetapkan. Ditambah lagi dengan sulitnya pembudidayaan yang bisa dilakukan. Budidaya jenis ikan ini hanya bisa sebatas pembesaran dengan pengambilan benih dari alam. Ini mengingat pemijahan (penetasan di luar habitat asli) sangat sulit dengan tingkat keberhasilan hanya 2-3 % saja.
Butuh kerja keras dari instansi terkait untuk mengontrol perburuan dan perdagangan spesies ini. Pun butuh kesadaran dari semua pihak bahwa nilai ekonomi yang sekalipun sangat tinggi itu akan segera tiada arti jika mengabaikan konservasi.
Kerajaan: Animalia. Filum: Chordata. Kelas: Actinopterygii. Ordo: Perciformes. Famili: Labridae. Genus: Cheilinus. Spesies: Cheilinus undulatus.
Referensi: www.iucnredlist.org/details/4592/0; www.cites.org; www.djpb.kkp.go.id/berita.php?id=816; gambar: commons.wikimedia.org/wiki/Cheilinus_undulatus;
Baca artikel tentang ikan dan satwa lainnya:
Diposkan oleh: alamendah
Kategori: satwa
Tag: Cheilinus undulatus, ikan, ikan napoleon
Mobile Site | Full Site
Get a free blog at WordPress.com Theme: WordPress Mobile Edition by Alex King.
Saya beruntung sempat merasakan enaknya ikan Napoleon, saat itu saya sedang mengunjungi keluarga di Tual, Maluku Tenggara. Banyak nelayan yang menjualnya, tapi saat itu status konservasinya belum Endangered. Sepertinya si Napoleon ini bukan ikan yang sering berkembang biak, sehingga tidak seimbang antara ikan yang ditangkap dan regenerasinya.
By Faradiba Achmadi on 18 Mei 2013 pada 9:11 am
Saya beruntung tidak pernah makan ikan cantik ini. Tahun 1993 saya masih bisa melihat di Karimunjawa, kini hanya kenangan.
By Andreas Muljadi (@andreasmuljadi) on 4 Maret 2016 pada 4:46 pm
harus di lestarikan
By mesin kasir on 4 Juni 2013 pada 3:44 pm
apakah ini termasuk ikan hias ?
By mesin kasir on 3 Juli 2013 pada 4:48 pm
Ikan ini termasuk ikan konsumsi, jumlahnya di laut menurun sekali krn banyak ditangkap utk diekspor. Harga nya tahun 2011 mencapai 2juta per kg.
By Andreas Muljadi (@andreasmuljadi) on 4 Maret 2016 pada 4:48 pm
ikanya lucu 😀
By mesin kasir on 16 September 2013 pada 4:37 pm
[…] Ikan Napoleon antara Komoditas dan Konservasi […]
By 5 Hiu dan 2 Pari Manta Ditambahkan Dalam Appendix CITES | Alamendah's Blog on 16 September 2014 pada 8:18 pm
[…] Ikan Napoleon antara Komoditas dan Konservasi […]
By Ikan Badut (Nemo) Si Kecil Penjelajah Ratusan Kilometer | Alamendah's Blog on 18 September 2014 pada 7:18 pm