30 Maret 2013 5:24 am
Burung Cempala Kuneng adalah Maskot (Fauna Identitas) Provinsi Aceh. Burung Cempala Kuning, disebut juga sebagai Ceumpala Kuneng, dan Kucica Ekor-kuning merupakan fauna identitas provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, mendampingi Bunga Jeumpa yang dijadikan flora identitas.
Burung Cempala Kuning (Trichixos pyrropygus) telah menjadi burung kebanggaan sejak masa Sultan Iskandar Muda (1607 -1636) dan banyak disebut dalam hikayat Aceh. Oleh karenanya tidak mengherankan jika kemudian burung yang disebut juga sebagai Kucica Ekor-kuning ini kemudian ditetapkan sebagai fauna identitas provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Burung asli Indonesia ini mempunyai beberapa nama mulai Cempala Kuneng, Kucica Ekor-kuning, dan Ceumpala Kuneng, serta dalam bahasa Aceh sendiri terkadang disebut sebagai cicem pala kuneng. Dalam bahasa Inggris salah satu anggota burung pengicau ini disebut dengan Rufous-tailed Shama. Dan dalam bahasa latin, nama ilmiah resminya adalah Trichixos pyrropygus, Lesson 1839 yang bersinonim dengan Trichixos pyrropyga Sibley and Monroe (1990, 1993) dan Copsychus pyrropygus.
Burung Cempala Kuneng atau Kucica Ekor-kuning (Trichixos pyrropygus) berukuran sedang, sekitar 21 cm, dan berekor panjang. Warna bulunya coklat keabuan tua mengkilap dengan ciri khas alis putih yang terbentuk di atas mata, serta paruh hitam ramping tajam. Sebagian dada dan perut sampai pangkal ekor dan punggung berwarna kuning kemerahan, sedangkan ujung ekornya berwarna hitam dengan pinggir putih pada bagian bawahnya. Burung betina lebih coklat serta tidak mempunyai alis putih. Burung remaja lebih coklat berbintik-bintik kuning merah karat. Iris coklat; paruh hitam; kaki hitam.
Suara kicauan burung Kucica Ekor-kuning biasanya terdiri dari siulan merdu, nada tunggal dan nada ganda, “pi-uuu”, meningkat dan menurun bergantian secara tidak tetap.
Hewan khas provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikenal sebagai burung cempala kuneng merupakan hewan asli yang mendiami Indonesia, Semenanjung Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand. Di Indonesia, Kucica Ekor-kuning (Trichixos pyrropygus) tersebar bukan hanya di Aceh saja namun dapat dijumpai hampir di seluruh pulau Sumatera dan Kalimantan.
Habitat burung Ceumpala Kuneng meliputi hutan dataran rendah, daerah rawa gambut, hutan berdaun lebar dengan ketinggian di bawah 1.200 meter dpl.
Jumlah populasi dan individu tidak diketahui dengan pasti. Namun disinyalir telah mengalami penurunan populasi yang sangat besar dan mulai menjadi hewan langka di beberapa daerah. Penurunan populasi diakibatkan oleh tingkat kerusakan hutan yang tinggi di wilayah Sumatera dan Kalimantan serta adanya perburuan liar untuk diperjualbelikan sebagai burung peliharaan.
Meskipun keberadaannya di alam bebas semakin langka, namun oleh lembaga konservasi internasional IUCN Red List masih belum dianggap terancam dan hanya dikategorikan dalam spesies berstatus Near Threatened atau hampir terancam sejak tahun 2000. Belum terdaftar dalam apendiks CITES serta tidak termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi sebagaimana Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999.
Namun dengan tingkat deforestasi yang sangat tinggi, tidak menutup kemungkinan burung indah Ceumpala Kuneng atau Kucica Ekor-kuning hanya akan tersisa di dalam Hikayat Aceh saja.
Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Aves; Ordo: Passeriformes; Famili: Muscicapidae; Genus: Trichixos; Spesies: Trichixos pyrropygus.
Referensi: www.iucnredlist.org/details/106006646/0 www.birdlife.org/datazone/speciesfactsheet.php?id=6646 www.cites.org/eng/resources/species.html www.unep-wcmc-apps.org/isdb/Taxonomy/tax-species-result.cfm?Genus=Trichixos&Species=pyrropyga&source=animals&tabname=legal Gambar: www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kucica-ekor-kuning
Baca catatan tentang burung dan fauna identitas provinsi lainnya:
Diposkan oleh: alamendah
Tag: cempala kuneng, fauna identitas aceh, kucica ekor-kuning, nanggroe aceh darussalam, Trichixos pyrropygus
Mobile Site | Full Site
Get a free blog at WordPress.com Theme: WordPress Mobile Edition by Alex King.
Sebelum melihat gambarnya, saya kira yang berwarna kuning itu bulu di kepalanya, Pak, ternyata ekornya ya?
By Abi Sabila on 30 Maret 2013 pada 7:39 am
Mungkin lantaran namanya yang mengandung unsur “pala” hingga yang terlintas ya langsung kepala 🙂
By alamendah on 30 Maret 2013 pada 8:48 am
Burung ini memang sudah sangat sulit untuk ditemui di alam bebas, semoga saja tidak menjadi hewan langka, kan sayang sekali…
By Jefry on 30 Maret 2013 pada 12:15 pm
kalau melihat aslinya mungkin lucu ya…ekor kuning.
semoga ini tidak punah…
Salam dari http//faridwajdi.com
By FARID We on 30 Maret 2013 pada 12:59 pm
keren bgt pak
By mesin kasir on 30 Maret 2013 pada 2:28 pm
Walau lahir dan besar di aceh saya malah belum pernah lihat secara langsung burung ini mas 😦
By Chici on 30 Maret 2013 pada 9:39 pm
sayangnya pasti saat ini akan banyak yang berburu hewan ini. entah buat pajangan ato apalah….
By Ilmu Dunia dan Akhirat on 6 April 2013 pada 8:17 pm
indah bgt burungnya
By mesin kasir on 18 April 2013 pada 5:46 pm
kerennnn . .
By mesin kasir on 18 September 2013 pada 2:33 pm
mirip2 dikit sama burung gereja
By Sewa mobil jakarta on 6 Februari 2014 pada 2:14 pm
[…] Selengkapnya mengenai burung Cempala Kuneng, baca : Burung Cempala Kuneng Maskot Aceh. […]
By Hewan dan Tumbuhan Khas Provinsi Aceh | Alamendah's Blog on 1 September 2014 pada 8:17 pm
keren sgat ni web mas,
nice web
By The $ema$a on 18 September 2014 pada 2:13 am
[…] Burung Cempala Kuneng Maskot Aceh […]
By Srigunting Bukit (Dicrurus remifer) Burung Berekor Raket | Alamendah's Blog on 29 September 2014 pada 7:47 pm
burung khas kami Aceh, emang benar burung tsb hampir punah, sukar kali didapat..
By ѕєrbα ѕємαѕα on 30 November 2014 pada 6:02 pm