9 Agustus 2012 3:19 am
Mandar Gendang atau Habroptila wallacii bagai burung penabuh drum (gendang) dari Halmahera. Suara burung endemik pulau Halmahera, Maluku Utara ini memang menggelegar dan mirip suara gendang atau drum. Pantas jika kemudian burung ini dinamakan mandar gendang sekaligus disebut sebagai “drummer rail“.
Sayangnya burung mandar gendang dengan ukuran tubuh sekitar 40 cm dan tidak bisa terbang ini termasuk burung langka yang keberadaannya semakin terancam punah. Populasinya semakin menurun dan sulit ditemukan.
Burung mandar gendang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Invisible Rail, Drummer Rail, Halmahera Rail, atau Wallace’s Rail. Sedangkan nama ilmiah hewan ini adalah Habroptila wallacii. Nama mandar gendang dan Drummer Rail dimungkinkan lantaran suara kicauan burung ini yang keras menggelegar layaknya bunyi gendang. Sedangkan nama Invisible Rail disematkan karena burung termasuk yang sulit ditemukan dan diamati, bahkan konon pernah bertahun-tahun tidak pernah ditemukan oleh para peneliti sejak ditemukan pertama kali oleh zoologis Inggris, George Robert Gray pada tahun 1860.
Diskripsi Fisik dan Perilaku. Burung mandar gendang berukuran panjang antara 33-40 cm. Burung jantan dan betina mempunyai bulu yang serupa yakni abu-abu gelap dengan sayap dan ekor berwarna coklat gelap. Bagian kulit yang tidak berbulu berwarna merah. Sedangkan kulit pada kaki berwarna oranye kemerahan.
Masih sedikit yang diketahui tentang perilaku hidup burung endemik Halmahera ini. Makanan mandar gendang (Habroptila wallacii) umumnya adalah pucuk tanaman, serangga, dan sagu dari batang sagu yang terbuka. Suara kicauan burung ini seperti bunyi gendang dengan diselingi jeritan keras.
Habitat, Penyebaran, Populasi, dan Konservasi. Sebagai hewan endemik Halmahera, burung mandar gendang hanya bisa dijumpai di pulau Halmahera, Maluku Utara. Habitatnya adalah di daerah lahan basah, semak belukar disekitar rawa, dan lahan gambut dengan ketinggian hingga 700 meter dpl.
Populasi mandar gendang (Habroptila wallacii) tidak diketahui pasti. BirdLife Internasional memperkirakan populasinya berkisar antara 2.500 – 9.999 ekor burung dewasa (2000) dengan tren populasi yang terus mengalami penurunan. Penurunan populasi ini diakibatkan oleh hilangnya habitat, deforestasi, dan aktifitas pemanenan sagu secara komersial oleh penduduk.
Karena tingkat populasi, daerah sebaran, dan ancaman yang ada, IUCN Redlist memasukkan burung mandar gendang (Habroptila wallacii) dalam status konservasi vulnerable sejak tahun 1994. Yang patut disayangkan, meskipun termasuk salah satu burung langka, ternyata burung endemik Si Penabuh Gendang ini belum termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi di Indonesia.
Klasifikasi Ilmiah: Kerajaan: Animalia. Filum: Chordata. Kelas: Aves. Ordo: Gruiformes. Famili: Rallidae. Genus: Habroptila. Spesies: Habroptila wallacii.
Referensi dan gambar:
Baca artikel tentang burung dan satwa Indonesia lainnya:
Diposkan oleh: alamendah
Tag: burung endemik, burung langka, Drummer Rail, Habroptila wallacii, Halmahera, Invisible Rail, mandar gendang
Mobile Site | Full Site
Get a free blog at WordPress.com Theme: WordPress Mobile Edition by Alex King.
Burung tapi nda bisa terbang ya, Pak? Kalau lihat photonya, mirip ayam, tapi sepertinya porsi kakinya lebih tinggi, mirip bangau ya, Pak?
By Abi Sabila on 9 Agustus 2012 pada 6:13 am
Beberapa bulan lagi saya akan ke Halmahera buat praktek lapang. Semoga bisa bertemu burung ini, bisa difoto juga… Aaamiiin 😀
By Ahmad Alkadri on 9 Agustus 2012 pada 7:46 am
Kirain beneran bisa menabuh drum..hehehe.. Ternyata karena suaranya menggelegar toh…
Semoga burung ini bisa diselamatkan dari kepunahan.. 🙂
By dewidrupadi on 9 Agustus 2012 pada 9:58 am
paruhnya panjang juga ya
By Lidya on 9 Agustus 2012 pada 10:02 pm
saya baru pernah lihat burung ini.. lebih mirip ayam ya… bisa terbang tidak ya?
By Applausr on 10 Agustus 2012 pada 12:26 am
Hmmm kecil-kecil suaranya menggelegar ya mas :p
Sayang udah termasuk hewan langka 😦
By Chici on 10 Agustus 2012 pada 7:12 am
Benar, mirip ayam hanya beda di paruh yang panjang berwarna merah. Bisa benar2 punah kalau tidak dilindungi.
By HALAMAN PUTIH on 10 Agustus 2012 pada 9:51 am
kayak ayam yah…
tapi paruhnya panjang…
tapi mantaplahh…
By sepatu kulit on 10 Agustus 2012 pada 11:29 am
Alhamdulillah ;0 semoga anak cucu kedepannya masih bisa menikmati 🙂
By Muhammad Rudiansyah on 11 Agustus 2012 pada 9:23 am
Penamaan yang menyingkat penciri, mandar gendang, kayanya tanah air kita.
By prih on 11 Agustus 2012 pada 10:23 am
kayak bangau, dengan warna hitam ya mas.
By kiriman darat on 12 Agustus 2012 pada 8:55 pm
Wah, ini burung kayaknya bisa diajak bikin Band ya Mas, pasti menarik #eh… 😀
By kaget on 13 Agustus 2012 pada 11:22 pm
namanya lucu unik, penabuh drum 😀
By arif on 14 Agustus 2012 pada 7:33 am
Smoga burung trsebut trjaga kelestariannya.kan sayang bgt klo burung bagus kyk gitu sampe punah
By realdani on 17 Agustus 2012 pada 7:59 am
Burung yang keren…
Cocok buat arakan pas malam Takbiran nanti, heheh… 🙂
Ada-ada saja… 😀
By Legy Masyhury on 17 Agustus 2012 pada 5:02 pm