16 April 2012 10:22 pm
Elang Bondol sebagai maskot kota Jakarta, pastinya sudah diketahui oleh semua warga kota Jakarta. Bahkan bus transjakarta pun turut menggunakan gambar burung Elang Bondol (dengan mencengkeram Salak Condet) sebagai logo yang terpasang di setiap bisnya. Namun bagi yang memperhatikan pastinya juga akan mafhum jika semakin hari, Sang Maskot Kota Jakarta, Elang Bondol, semakin sulit dijumpai dan langka.
Elang Bondol merupakan salah satu jenis elang yang dapat dijumpai di Indonesia. Elang Bondol kadang disebut juga sebagai Lang Lang Merah atau Elang Tembikar. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan Brahminy Kite atau Red-backed Sea-eagle. Sedangkan nama ilmiah hewan ini adalah Haliastur indus yang bersinonim dengan Falco indus.
Ciri-ciri dan Perilaku Elang Bondol. Elang Bondol berukuran sedang dengan besar sekitar 45 cm. Pada elang dewasa, bagian kepala, leher, hingga dada berwarna putih sedangkan bulu lainnya berwarna coklat pirang. Pada elang remaja, hampir keseluruhan bulunya berwarna coklat.
Elang Bondol sering kali hidup sendiri. Meskipun pada daerah dengan sumber makanan yang melimpah dapat hidup berkelompok hingga mencapai 35 individu. Bukan hanya penampilannya saja yang terlihat gagah, namun gerakan akrobatik burung ini di udara juga kerap mempesona. Elang Bondol sering memamerkan gerakan terbang naik dengan cepat diselingi gerakan menggantung di udara, kemudian menukik tajam dengan sayap terlipat dan dilakukan secara berulang-ulang. Selain itu sering kali burung ini terbang rendah di atas permukaan air untuk mencari mangsa.
Makanan Elang Bondol cukup bervariasi. Burung ini sering memakan kepiting, udang, dan ikan, hingga sampah dan ikan sisa tangkapan nelayan. Elang Bondol juga memangsa burung, anak ayam, serangga, dan mamalia kecil. Mangsa tersebut dapat berupa mangsa hidup ataupun telah mati.
Suara burung Elang Bondol saat terbang berpasangan terdengar seperti jeritan dengan suara “iiuw-wir-r-r-r-r”. Dan saat memburu pendatang atau burung saingan akan mengeluarkan suara lengkingan keras bernada “piiiii-yah”.
Musim berkembang biak biasanya berlangsung pada bulan Januari-Juli dan Mei-Oktober. Burung ini akan membuat sarang yang tersusun atas patahan batang, rumput, daun, rumput laut, sisa makanan dan sampah dan diletakkan di atas pohon yang tersembunyi. Dalam satu musim bertelur antara 1-4 butir berwarna berwarna putih, sedikit berbintik merah yang akan menetas setalah dierami selama 28-35 hari. Anak elang mulai belajar terbang di usia 40-56 hari, dan mulai hidup mandiri setelah dua bulan.
Daerah Persebaran dan Habitat. Elang Bondol (Haliastur indus) mempunyai daerah persebaran yang luas mulai dari Australia, Bangladesh, Brunei Darussalam, Kamboja, Cina, India, Indonesia, Laos, Makao, Malaysia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Papua New Guinea, Filipina, Singapura, Kepulauan Solomon, Sri Lanka, Taiwan, Taiwan, Thailand, Timor-Leste, dan Vietnam. Di Indonesia, burung yang menjadi maskot kota Jakarta ini dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua.
Habitat utama burung Elang bOndol adalah daerah pesisir pantai, hutan mangrove, rawa-rawa, dan danau di daerah dataran rendah hingga ketinggian 3000 meter dpl.
Populasi dan Konservasi. Secara global diperkirakan populasi burung Elang Bondol sekitar 100.000 individu dewasa (birdlife). Di tambah dengan daerah persebarannya yang sangat luas, membuat IUCN Red List tetap memberikan status konservasi
Least Concern (Resiko Rendah) kepada burung pemangsa ini sejak 2004. Sedangkan CITES (Convention on International Trade of Endangered Fauna and Flora / Konvensi tentang Perdagangan International Satwa dan Tumbuhan) memasukkannya dalam daftar Apendiks II.
Di Indonesia sendiri Elang Bondol termasuk satwa yang dilindungi dan terdaftar dalam lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. Selain itu Elang Bondol ditetapkan sebagai Fauna Identitas (Maskot) Provinsi DKI Jakarta mendampingi Salak Condet (Flora Identitas) berdasarkan Keputusan Gubernur No 1796 Tahun 1989. Terakhir, burung pemangsa ini juga dijadikan logo Transjakarta.
Meskipun populasi global masih dianggap cukup aman dari kepunahan, namun di beberapa tempat di Indonesia, Elang Bondol justru mulai langka dan sulit ditemukan. Kota Jakarta yang mengambil burung ini ssebagai maskotnya termasuk daerah yang ‘ditinggalkan’ burung ini. Keberadaannya hanya bisa ditemukan di beberapa pulau di Kepulauan Seribu saja.
Penurunan populasi Elang Bondol diakibatkan oleh hilangnya habitat, perburuan dan perdagangan satwa, penggunaan pestisida yang berlebihan dan semakin berkurangnya mangsa akibat pencemaran laut.
Memang sangat ironis jika di kota yang menjadikannya sebagai maskot, burung Elang Bondol justru mulai langka dan sulit ditemukan. Kecuali tentunya jika kita berdiri di pinggir jalan dan menanti bis Transjakarta. Atau mungkinkah kedepannya, warga Jakarta hanya bisa melihat maskotnya tergambar di badan bis Transjakarta saja?.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia. Filum: Chordata. Kelas: Aves. Ordo: Falconiformes. Famili: Accipitridae. Genus: Haliastur. Spesies: Haliastur indus.
Referensi dan gambar:
Baca artikel tentang burung dan lingkungan hidup lainnya:
Diposkan oleh: alamendah
Tag: burung langka, Elang bondol, fauna identitas, Haliastur indus, hewan langka, logo transjakarta, maskot jakarta
Mobile Site | Full Site
Get a free blog at WordPress.com Theme: WordPress Mobile Edition by Alex King.
aku membayangkan si burung pas lg bersuara mas, sepertinya serem ya heuheuheu
By Orin on 18 April 2012 pada 3:16 pm
Gak serem juga kok, Mbak. Malah banyak pencinta dan pengamat burung yang telah merindukan suaranya
By alamendah on 20 April 2012 pada 5:40 am
dulu ane sring dengar cerita tntang elang bondol, tapi sekarang udah ga trdengar lagi
By trica jus herbal ajaib on 19 April 2012 pada 7:16 am
Keren ya elangnya, gagah!
By Ari W on 19 April 2012 pada 7:44 am
oh jadi elang bondol tuh maskot jakarta yah, baru tau saya heheheh, ketinggalan info yah…..
By obatalami_agus supriatna on 19 April 2012 pada 10:11 am
elang bondol ini memang warnanya bagus; sehingga menjadikannya gagah, tapi tidak seram…
barangkali ini yang menjadikannya digunakan sebagai maskot Kota Jakarta.
By Akhmad Muhaimin Azzet on 19 April 2012 pada 10:58 am
Burung Elang Bondol penerbang dan penjelajah yang ulung juga gigih, ulet dan pantang menyerah dalam memburu mangsa untuk kelangsungan hidup dan kelestarian jenis. Sifat ini diharapkan dapat menginspirasi Jakarta. Selain itu, bentuk dan warna tubuhnya sangat artistik clan menarik.
By alamendah on 20 April 2012 pada 5:31 am
Aku baru tahu om kalo itu maskot kota jakarta 😀
-salam hangat
By Hariez on 19 April 2012 pada 2:50 pm
waktu ke taman safari pernah di kasih tau sama guide burung, sambil nunjukin burungnya elang bondol ini. emang mantep jadi maskot jakarta
By Restaurant Jakarta Food Delivery from RestaurantJakartaDelivery.com on 20 April 2012 pada 12:17 am
Bagaimana elang bondol mau masuk hutan beton??
By Gelar S Ramdhani on 20 April 2012 pada 7:52 pm
sekarang habitat elang bondol yang tersisa di jakarta dimana ya? siapa yang bertugas untuk mengkonservasi&memelihara elang bondol tsb?
By Yunita Amelia on 22 April 2012 pada 2:36 pm
saya kira yang di bus trans itu iklan kacang garuda, ternyata…. maskot jakarta
By Amy sidra on 23 April 2012 pada 8:00 pm
[…] Jakarta: Burung Elang Bondol (Haliastur […]
By Daftar Fauna Identitas Provinsi Di Indonesia | Alamendah's Blog on 24 April 2012 pada 5:59 am
Elang bondol pernah saya lihat langsung di alam liar cuma di kawasan TN. Ujungkulon dan TN. Gede Pangrango itupun sudah 10 tahun yang lalu.. Kalo di Jakarta kita masih bisa melihat elang bondol di kebun binatang Ragunan.. he he he..
By Admin Direktori Indonesia on 25 April 2012 pada 3:19 pm
Kemajuan pembangunan di suatu daerah emang kerap berbanding terbalik dengan populasi hewan asli dari daerah setempat
By R-Wasp on 28 April 2012 pada 10:00 am
Nice info Mas Bro
By Omer on 26 Mei 2012 pada 7:59 pm
elang Bondol sekarang banyak didaerah jakarta mana, saya jadi pengen tahu nih, tolong kasih tau ya….
By tita on 6 Juli 2012 pada 11:28 am