Alamendah's Blog


Beranda | Laman | Arsip


Wiwik Kelabu (Kedasih) Burung Parasit Burung Kematian

24 September 2011 7:12 am

Burung wiwik kelabu atau burung kedasih (Cacomantis merulinus) burung parasit dan burung pembawa kematian?. Burung wiwik kelabu (kedasih) sebagai burung parasit memang benar adanya. Namun burung kedasih (wiwik kelabu) sebagai burung kematian, sepertinya hanya mitos.

Burung parasit layak untuk menyebut burung wiwik kelabu ini. Burung ini tidak mau membuat sarang dan mengerami telurnya sendiri malah menitipkan telurnya pada sarang burung lain setelah terlebih dahulu membuang telur burung yang dititipinya.

Burung wiwik kelabu di Jawa dikenal sebgai burung kedasih atau daradasih. Sedangkan di Sunda, masyarakat lebih mengenal burung wiwik kelabu sebagai kedasi, sit uncuing, sirit uncuing, manuk uncuing, atau emprit ganthil. Dalam bahasa Inggris burung dari famili Cuculidae ini dikenal sebagai Plaintive Cuckoo. Sedangkan nama hewan ini dalam bahasa latin (ilmiah) adalah Cacomantis merulinus.

Ciri-ciri, Kebiasaan, Persebaran, dan Konservasi. Burung wiwik kelabu atau kedasih (Cacomantis merulinus) berukuran kecil dengan panjang tubuh sekitar 21 cm. Burung kedasih dewasa berwarna abu-abu di bagian kepala, leher dan dada sebelah atas. Punggungnya merah kecoklatan dan perutnya kuning jingga. Sisi bawah ekor dengan warna putih di ujung-ujung bulu yang kehitaman. Burung muda berwarna burik; kecoklatan dengan garis-garis hitam di sisi atas tubuh, dan keputihan dengan garis-garis hitam yang lebih halus.

Burung wiwik kelabu atau kedasih

Burung wiwik kelabu atau kedasih (Cacomantis merulinus)

Burung wiwik kelabu memakan buah kecil, laba-laba, kumbang, dan serangga lain. Habitat yang disukai burung parasit ini adalah hutan, hutan sekunder, tepi hutan, tegalan hingga di sekitar pemukiman di pedesaan.

Di Indonesia burung wiwik kelabu ditemukan hidup tersebar mulai di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, hingga Sulawesi. Selain itu dijumpai juga di Semenanjung Malaya, Filipina, Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja, Myanmar, China, Bangladesh, hingga India.

Suara kicauan burung wiwik kelabu khas dan terkesat menyayat hati. Bunyi kicauannya Tii..tut..twiiit, ..tii..tut..twiiit, .. tii..tut..twiiit”, bertambah cepat dan bertambah tinggi nadanya. Atau bunyi, “tii..tut..twiiit, ..twiit, ..twiit, ..twit, ..twit, ..wit, ..wit, ..wit-wit-wit-wit-wit-wit”; dengan nada yang meninggi di awal kemudian semakin menurun dan semakin pendek di akhir.

Populasi burung parasit bernama inggris Plaintive Cuckoo ini diperkirakan masih melimpah dan belum terancam punah. IUCN Red List melabelinya dengan status konservasi Least Concern (Resiko Rendah). Dan di Indonesia, burung kedasih atau wiwik kelabu (Cacomantis merulinus) pun tidak termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi.

Burung Parasit Burung Kematian. Burung kedasih atau wiwik kelabu (Cacomantis merulinus) tidak mau mengerami telurnya sendiri. Bahkan membuat sarangpun tidak. Burung ini akan mencari sarang burung lain semisal perenjak (Prinia familiaris), cinenen (Orthotomus sutorius), cica daun (Chloropsis cochinchinensis), dan beberapa burung kecil lainnya dan menitipkan telurnya di sana.

Bukan sekedar menitipkan, wiwik kelabu (Cacomantis merulinus) juga membuang telur burung yang dititipi. Sehingga burung yang dititipi tidak menyadari telah mengerami telur yang bukan miliknya. Bahkan untuk menjamin kelangsungkan anakan burung wiwik kelabu, warna bulu burung kedasih muda dan dewasa pun berbeda. Perilaku inilah yang menahbiskan burung wiwik kelabu sebagai burung parasit.

Oleh sebagian masyarakat, burung wiwik kelabu dipercaya sebagai burung kematian yang suara kicauannya dianggap sebagai pertanda datangnya malaikat pencabut nyawa. Mungkin lantaran mitos ini pulalah yang kemudian menghindarkan burung wiwik kelabu dari perburuan dan perdagangan yang kerap membuat aneka spesies burung semakin langka di habitatnya.

Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Aves; Ordo: Cuculiformes; Famili: Cuculidae; Genus: Cacomantis; Spesies: Cacomantis merulinus (Scopoli, 1786).

Referensi dan gambar:

Baca artikel tentang burung dan lingkungan hidup lainnya:

Diposkan oleh: alamendah

Kategori: burung, satwa

Tag: , , , , ,

77 Tanggapan to “Wiwik Kelabu (Kedasih) Burung Parasit Burung Kematian”

  1. wah kok burung wiwik nggak mau mengerami telurnya sendiri ya. Apa tidak sayang kepada anaknya? Tapi itulah keanekaragaman burung ciptaan Allah yang Maha Pencipta.
    Mitosnya agak serem tapi semoga bisa menghindarkan burung ini dari ancaman kepunahan.

    By Mas Jier on 24 September 2011 pada 8:23 am

    1. iya,saya baru tau. kupikir semua burung akan begitu sayang pada anaknya dan ga jadi parasit bagi yg lain. tp mgkn itulah biar manusia belajar menganai banyak hal 😀

      By arif on 24 September 2011 pada 9:59 am

  2. Hihi namanya kayak nama orang ya mas “wiwik” :p
    Chi pernah baca sih mas tentang burung yang suka nitip telurnya buat dieramin burung lain, tapi lupa namanya. Apa ada burung jenis lain yang juga punya perilaku yang sama mas?

    By Chici on 24 September 2011 pada 9:13 am

    1. Ada beberapa jenis yang lain. Rata2 dari famili Cuculidae

      By alamendah on 24 September 2011 pada 10:31 am

  3. Ow burung yang itu toh…dikampung halaman saya entah kenapa disebut midoderep

    By riez on 24 September 2011 pada 9:41 am

  4. di sekitar rumah ada burung kecil yang suka berbunyi cit cuit panjang,
    sayang selalu di pohon tinggi … jadi belum terlihat jelas warna bulunya
    apa mungkin burung kedasih ini ya..?

    By monda on 24 September 2011 pada 10:10 am

  5. O,..baru tau.sy sering denger suaranya tiap mau maghrib gitu, dan memang suarany serem jg,apa lg rmh sy kbetulan dkt kuburan.

    By Moch adnan on 24 September 2011 pada 10:13 am

  6. Sudah hidupnya sebagai burung parasit ditambah lagi sebagai burung kematian lengkap sudah hidup burung tersebut

    By agussupria on 24 September 2011 pada 10:58 am

  7. Saya pikir burung wiwik kelabu disebut burung kematian karena dia peka sama bau calon mayat yang akan membangkai, hmmm….dugaan saya sok tau bener ya 😀

    By anny on 24 September 2011 pada 11:12 am

  8. Artikel yang menarik 🙂

    By Outing on 24 September 2011 pada 12:28 pm

  9. nama burung nya kayak nama wanita,
    Jdi sempet mikir yg aneh2 deh..
    Hehehe

    By .:: setiaONEbudhi ::. on 24 September 2011 pada 1:00 pm

  10. kok gk mau ngerami telurnya sendiri ya?

    By andinoeg on 24 September 2011 pada 1:07 pm

  11. Wah…. namanya bagus juga tuh mas “Kedasih” atau “Daradasih”. Boleh aku bertanya mas ? Kenapa dinamakan dengan nama lain demikian ? atau tolong carikan ceritanya ya mas, sebab saya klik dinama tersebut linknya tidak keluar Mas.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

    By Ejawantah's Blog on 24 September 2011 pada 1:14 pm

    1. Saya kurang paham kenapa namanya kedasih atau daradasih. Kedasih atau daradasih sendiri merupakan ungkapan dalam bahasa jawa yang sudah mulai jarang dipakai. kalau gak salah mengandung arti “impian yang menjadi nyata”.

      Mungkin pula ini ada hubungannya dengan perilaku burung ini yang (saya kurang yakin juga) monogami, setia dengan pasangannya, Di jawa burung ini selain punya mitos pengabar nasib buruk juga kental dengan mitos romantisme yang penuh luka dan derita.

      Sekali lagi hal ini saya sendiri kurang yakin karena keawaman saya pada bidang kesusastraan jawa kuno.

      By alamendah on 24 September 2011 pada 8:00 pm

  12. Eealaaah, sungguh ibu yang tak bertanggungjawab Bu Wiwik ini 😦
    Padahal burungnya bagus ya, Mas….

    By chocoVanilla on 24 September 2011 pada 1:27 pm

  13. namanya kok wiwik ya, Mas?
    kayak nama temen saya, tapi tidak kelabu warnanya. hhehe

    By giewahyudi on 24 September 2011 pada 4:04 pm

  14. burungnya cantik, tapi sayang jadi burung kematian.. ternyata penampilan bisa menipu yaa mas.. hehe

    By Dhenok on 24 September 2011 pada 6:48 pm

  15. Pena hadir dan absen malam di sini gan…
    Belajar banyak di sini tentang ilmu burung di sini…tambah pengetahuannya

    By tautanpena on 24 September 2011 pada 6:53 pm

Tinggalkan Balasan



Mobile Site | Full Site


Get a free blog at WordPress.com Theme: WordPress Mobile Edition by Alex King.