Alamendah's Blog


Beranda | Laman | Arsip


Menanam Air Hujan Atasi Banjir dan Krisis Air

2 Januari 2011 8:26 pm

Menanam air hujan untuk atasi banjir dan krisis air. Dengan menanam air akan meningkatkan jumlah air di dalam tanah yang kemudian hari dapat dimanfaatkan kembali. Selain menjadi solusi krisis air bersih, menanam air juga mengurangi ancaman banjir.

Menanam air adalah konsep sederhana untuk menangkap air hujan agar terserap ke dalam tanah. Air hujan yang pada dasarnya merupakan air bersih dialirkan ke dalam tanah melalui sumur resapan, resapan biopori atau berbagai tempat penampungan air lainnya seperti danau, situ, waduk ataupun sungai.

Pola pikir kita selama ini cenderung untuk mengalirkan air hujan secepatnya ke laut. Pemerintah sibuk membangun kanal-kanal dan sungai untuk menghindari bencana banjir. Masyarakat pun, selalu mengarahkan air menuju got-got (parit) yang menuju ke sungai dan akhirnya bermuara di laut. Tujuannya satu, untuk menghindari banjir. Padahal, dengan pola pikir ini bukan mencegah terjadinya banjir tetapi yang sering kali terjadi adalah merelokasi (memindah) lokasi banjir.

 

Menanam air hujan

Menanam air hujan

Selain itu kita sering lupa bahwa hujan merupakan sebuah anugerah bagi kita semua. Terutama dalam penyediaan air tawar yang bersih. Menurut Maude Barlow dan Tony Clarke (Blue Gold, 2005), dari sekitar 1,4 miliar kilometer kubik jumlah air di Bumi, air tawar yang tersedia hanya 2,6 persennya atau 36 juta kilometer kubik. Dan ketika kita diberikan air tawar secara gratis dengan turunnya hujan, bukannya membuat kita bersyukur malah dengan menggerutu berusaha sekuat tenaga untuk membuangnya ke laut secepatnya.

Padahal jika kita mau, menanam air, menjadi sebuah konsep sederhana yang efektif. Air hujan diberikan jalan untuk meresap ke dalam tanah menjadi air tanah melalui lubang biopori, sumur resapan, sungai, danau, situ, ataupun waduk. Yang terpenting tempat-tempat penampungan air tersebut harus mempunyai kemampuan untuk meresap air masuk ke dalam tanah. Sisa air hujan yang tidak ditanam baru dialirkan dan dibuang ke laut.

Dengan menanam air hujan, manfaat yang kita dapat antara lain:

Menanam air akan menjadi efektif jika setiap kita mau merubah pola pikir untuk mengirimkan air hujan sesegera mungkin ke laut. Tentunya dibarengi dengan tindakan nyata membuat sumur resapan atau lubang biopori di sekitar rumah. Dukungan pemerintah juga dibutuhkan terkait penyediaan daerah terbuka dan daerah resapan air, pembuatan waduk, situ, dan danau serta sungai-sungai yang selain mengalirkan air ke laut juga mampu menyerap air.

Mumpung saat ini masih musim penghujan masih banyak kesempatan untuk menanam air dan menabungnya sebagai air bersih di dalam tanah.

Gambar: commons.wikimedia.org/wiki/Water_drop

Baca artikel tentang alam lainnya:

Diposkan oleh: alamendah

Kategori: lingkungan hidup

Tag: , , , ,

96 Tanggapan to “Menanam Air Hujan Atasi Banjir dan Krisis Air”

  1. Pertamax….
    Komen nyusul bang…

    By ahsanfiles on 2 Januari 2011 pada 8:38 pm

    1. Balas dendam, ki…

      By alamendah on 2 Januari 2011 pada 8:53 pm

  2. Aaahhh ternyata dugaanku benar. Sebelum baca isinya sy sudah tebak ini ttg biopori. Bbrp bulan lalu pakar biopori Indonesia (dosen IPB klo g salah bukan) kasih seminar biopori di kantor. Terus terang kami karyawan tertarik semua, walau sebenarnya cara dan teknk membuat lubang biopori itu cukup berat alias mengeluarkan tenaga.
    Saya belum sempat beli alat biopori itu, tapi secara teknik sudah paham. Mdh2an nanti benar2 semangat bikin lobang2 biopori di rumah. :)u

    By zee on 2 Januari 2011 pada 8:47 pm

    1. Ini lebih pada konsepnya, Mbak. Tentang aplikasinya bisa menggunakan biopori, sumur resapan ataupun yang lainnya.

      By alamendah on 2 Januari 2011 pada 9:05 pm

  3. Menanam air hujan sangat bermanfaat ya Mas. Sayang belum menjadi sebuah budaya di negeri ini.

    By Masbro on 2 Januari 2011 pada 9:16 pm

    1. Mari berdoa dan berusaha agar ini jadi budaya
      *mumpung tahun baru

      By alamendah on 2 Januari 2011 pada 9:39 pm

  4. kalau airnya masih seiprit bisa jadi kawan..
    tapi kalu udah membludak, bisa jadi lawan..

    hwehehehe.. :pizz pakde..

    By Crypto~Dummy on 2 Januari 2011 pada 9:24 pm

    1. Jadi membludak lantaran gak diberi jalan buat masuk ke dalam tanah. Semuanya sudah dibeton.

      By alamendah on 2 Januari 2011 pada 9:40 pm

  5. Lagi ngerti saiki aku…
    Nandur Udan…
    Nandure ning waduk Nggembong 😀

    By marsudiyanto on 2 Januari 2011 pada 9:58 pm

    1. Ben Pak Mars kober niliki…

      By alamendah on 2 Januari 2011 pada 10:10 pm

  6. sumber air su dekat.. beta sonde pernah terlambat lagi :mrgreen:
    betul gan, ane setubuh! dulu waktu KKN ane juga buat lobang-lobang kek gitu (biopori)

    By Alam on 2 Januari 2011 pada 9:58 pm

    1. Yang paling murah emang pakai biopori

      By alamendah on 2 Januari 2011 pada 10:14 pm

  7. harusnya jalan kompleks dan halaman rumah jangan di beton atau diaspal… sediakan buat resapan air, paving block dengan rumput bisa jadi alternatifnya… oh iya… sebaiknya kuburan umum bisa jadi alternatif daerah resapan kota… makanya kuburan jangan di tembok semua…. salam…

    By syaifulrizals on 2 Januari 2011 pada 10:00 pm

    1. Sekarang semuanya pada dibeton. Padahal kodratnya, air musti ada yang meresap ke dalam tanah.

      By alamendah on 2 Januari 2011 pada 10:15 pm

  8. Hihihi…sudah tipikal orang kita kang, mengalihkan persoalan bukan menyelesaikan persoalan.

    By aldy~PF on 2 Januari 2011 pada 10:24 pm

  9. Alhamdulillah…rumah saya sudah menggunakan sumur resapan…itupun gasengaja karena namanya rumah di daerah kampung (non komplek) memang tidak memiliki saluran air pembuangan (got). Untuk biopori, tadinya saya kurang ngerti namun beruntung punya kakak yang bergerak di pertamanan. Akhirnya, dia menyuruh anak buahnya buat biopori deh di rumah.
    Sebenarnya konsep resapan air ada juga di benak saya menggunakan grass block di halaman rumah dibandingkan paving block.

    Selamat tahun baru bung alamendah

    By Necky on 2 Januari 2011 pada 11:44 pm

  10. Posting inspiratif.
    Selamat Tahun Baru, semoga tahun ini lebih baik dari tahun lalu.

    By Multibrand on 3 Januari 2011 pada 12:00 am

  11. kunjungan pertama sob.. kutunggu kunjungan baliknya y,, jd followerku jg

    By ade sumantri on 3 Januari 2011 pada 12:57 am

    1. Semoga akan ada kunjungan kedua dan selanjutnya….

      By alamendah on 3 Januari 2011 pada 5:40 pm

  12. Ditengah maraknya krisis air bersih ini bisa jadi pilihan
    makasih banyak infonya mas..
    kalau bisa menanam air kan bisa mandi terus dan buat kopi terus tanpa takut kehabisan air,,hiyahahahahahha
    salam..

    By apikecil on 3 Januari 2011 pada 3:07 am

    1. Hehehe, ngopi terus sampai hitam legam…

      By alamendah on 3 Januari 2011 pada 5:45 pm

      1. Wah ada yg ngomongin kopi nih. Pantesan sekarang saya pengen ngopi, hehe..

        By Masbro on 6 Januari 2011 pada 3:17 am

  13. di lokasi sekolah juga ada sumur serapan 2 buah, jadi kalau hujan mengarah ke situ, tapi kalau lebat ya ga bisa tertampung semua

    By Hafid Junaidi on 3 Januari 2011 pada 5:27 am

    1. Kalau satu seklahan cuman punya dua emang masih kurang. keknya perlu ditambahin dengan lubang biopori, deh.

      By alamendah on 3 Januari 2011 pada 5:47 pm

  14. Hal ini termasukbaru
    gak semua orang paham
    butuh sosialisasi yang lebih jika ingin maksimal

    By Invincible Tetik on 3 Januari 2011 pada 5:48 am

    1. Gak juga, kok. Istilah serupa ‘memanen hujan’ sudah saya dengar sejak 2008-an.

      By alamendah on 3 Januari 2011 pada 5:55 pm

  15. Benar mas, air hujan ini bisa kita manfaatkan utk mengatasi krisis air.

    By Dinohp on 3 Januari 2011 pada 7:03 am

    1. Aneh, kan?. Waktu kita diberi hujan, airnya kita buang. Pas giliran kemarau tiba kita bela-belain beli air…

      By alamendah on 3 Januari 2011 pada 6:00 pm

Tinggalkan Balasan



Mobile Site | Full Site


Get a free blog at WordPress.com Theme: WordPress Mobile Edition by Alex King.