Alamendah's Blog


Beranda | Laman | Arsip


Tingkat Degradasi Lingkungan Hidup di Jakarta

25 November 2010 12:02 am

Tingkat degradasi lingkungan di Jakarta semakin parah dalam tiga dekade terakhir. Degradasi (penurunan kualitas) lingkungan hidup di Jakarta ini salah satunya diakibatkan oleh pesatnya laju pertumbuhan penduduk akibat urbanisasi.

Degradasi lingkungan hidup yang terjadi di Jakarta ditunjang pula oleh faktor kurangnya “political will” dan kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan kepentingan pelestarian lingkungan serta lemahnya penegakan hukum (peraturan) di bidang yang berhubungan dengan lingkungan hidup.

Banjir di Jakarta dampak degradasi lingkungan

Banjir di Jakarta dampak degradasi lingkungan

Dampak degradasi lingkungan di Jakrta dapat dikenali dari empat aspek yaitu aspek lingkungan, aspek infrastruktur, aspek sosial, dan aspek tata kelola. Demikian menurut Menteri Pekerjaan Umum RI, Djoko Kirmanto, saat memberikan sambutan dalam seminar nasional Keberlanjutan Jakarta Sebagai Ibu Kota Negara dan Kota Pusat Pemerintah, di Pusat Studi Jepang, Kampus UI Depok, Rabu (24/11).

Berbagai indikasi degradasi lingkungan ini makin tidak terpisahkan dari Jakarta. Banjir yang makin rutin dan sering mengunjungi Jakarta, baik akibat berkurangnya daya serap tanah terhadap curah air hujan ataupun rusaknya daerah aliran sungai (DAS). Juga berbagai indikasi lain semisal kelangkaan sumber air bersih, pencemaran air dan udara, meluasnya daerah kumuh, dan penetrasi air asin pada sumur penduduk. Semuanya lengkap terjadi di Jakarta.

Untuk menangani permasalahan degradasi lingkungan hidup di Jakarta ada tiga skenario yang sementara ini ditawarkan menjadi solusi. Ketiga solusi itu adalah;

  1. Revitalisasi, artinya ibukota tetap di Jakarta namun dengan pilihan kebijakan untuk menata, membenahi dan memperbaiki berbagai persoalan Jakarta, berdasarkan rencana tata ruang wilayah DKI Jakarta dan RTRW kabupaten atau kota sekitarnya dalam satu kesatuan eco-region yang telah termuat dalam Rencana Tata Ruang Jabodetabekjur.
  2. Pemisahan pusat pemerintahan dari ibukota negara. Jakarta akan tetap berfungsi sebagai ibukota negara dengan mengutamakan faktor historisnya, namun pusat pemerintahan akan dipindahkan kelokasi baru. Tentunya untuk itu perlu dipertimbangkan faktor jarak Jakarta dengan pusat pemerintahan baru.
  3. Membangun ibukota negara dan pusat pemerintahan yang baru di luar wilayah Jakarta, sedangkan Jakarta dijadikan sebagai pusat bisnis.

Menurut sobat-sobat, seberapa parahkah degradasi lingkungan hidup yang terjadi di Jakarta?. Dan dari ketiga skenario tersebut, manakah yang terbaik buat Jakarta?.

Referensi:

Baca artikel tentang alam lainnya:

Diposkan oleh: alamendah

Kategori: kerusakan alam, lingkungan hidup

Tag: , , , ,

56 Tanggapan to “Tingkat Degradasi Lingkungan Hidup di Jakarta”

  1. harusnya :
    1.stop pembanguanan.maksdunya penambahan bangunan baru
    2.bagusin yang ada
    3.optimalkan saran yang ada
    4.tegas dan konsisten menjaga tata tertib dan peraturan
    ….
    maaf minta pendapatnya di sini;
    http://maskurmambangblog.wordpress.com/2010/11/26/gambar-porno-di-blog-wajarkah/

    By Maskur® on 26 November 2010 pada 7:59 am

  2. terima kasih atas informasinya..
    moga sukses selalu.

    By handout on 26 November 2010 pada 9:25 am

  3. menurut bunda poin satu yang lebih cocok, krn poin dua dan tiga, msh ada pertanyaan , apakah dgn memindahkan ibu kota ,mampu mengurangi kepadatan jakarta? belum tentu, krn tetap saja pusat bisnis dan perdaganagn berpusat di jakarta yg menyebabkan urbanisasi terus mengalir ke jakarta .
    salam

    By bundadontworry on 26 November 2010 pada 10:36 am

  4. Hmmm, pengen dipindahin ga ya ibukota dari Jakarta, bingung…

    By isnuansa on 26 November 2010 pada 10:52 am

  5. Ayo… ibukota negara aja dipisahin dari pusat bisnis 🙂

    By Kakaakin on 26 November 2010 pada 10:58 am

  6. dan pemerintah pun semakin bingung dengan peer yang semakin bertumpuk

    By gerhanacoklat on 26 November 2010 pada 11:07 am

  7. menurut saya ,, jakarta tetap jadi ibukota negara…
    tapi pembangunan diluar daerah ditingkatkan… jangan hanya di jakarta aja yang pembangunannya tumbuh pesat,,,

    pembangunan harus merata ,, itu menurut saya kunci yang pas…

    By leegundi on 26 November 2010 pada 11:13 am

  8. pindahin aja ke kalimantan, rame kali ya kalimantan kalo jadi ibu kota.

    By abifasya on 26 November 2010 pada 11:19 am

  9. ngeri banget liat banjir kek gitu mas

    By melly on 26 November 2010 pada 12:19 pm

  10. Wah Jakarta memang sudah saatnya pensiun mungkin mas …..

    By Rubiyanto on 26 November 2010 pada 1:58 pm

  11. Halo, salam kenal…lg2 blogwalking neh, hehe..

    iya, hem,,kayakna saya juga menjadi salah satu penyebab Jakarta penuh, hahaha.. urbanisasi ke kota…wkkwkw

    Masing-masing pilihan mengandung baik dan buruknya. kayakna saya lebih memilih pilihan nomor 1. lebih mungkin untuk dijalankan pada masa sekarang. Mungkin hasilnya tidak langsung kelihatan tapi beberapa tahun ke depan.

    By Rosa on 26 November 2010 pada 2:22 pm

  12. Sudah sangat parah.. dan tidak akan teratasi hanya dengan mengotak-atik letak ibu kota. Saya kira secara teori banyak pakar yang bisa diajak diskusi, menyusun grand design, dan sebagainya. Yang tidak ada adalah kemauan dan kemampuan yang memimpin.

    By dira on 26 November 2010 pada 5:28 pm

  13. saya mengusulkan ibukota d pindah k daerah saya saja. jd warga daerah saya tdk hrs urbanisasi k jkt.he he

    By huda on 26 November 2010 pada 5:47 pm

  14. Saya lebih setuju dengan pilihan pertama.
    Solusinya adalah membenahi semuanya dengan optimal. Sarana, prasarana dan disiplin sumberdaya manusia yang tinggal serta mencari nafkah disana…
    Susah tentu, tapi buat saya, ibukota Indonesia itu selalu identik dengan Jakarta 🙂

    By bintangtimur on 28 November 2010 pada 10:14 am

  15. nice post…
    kunjungi ini ya..
    klik ini
    thanks

    By Santi on 3 Desember 2010 pada 11:10 am

Tinggalkan Balasan



Mobile Site | Full Site


Get a free blog at WordPress.com Theme: WordPress Mobile Edition by Alex King.