5 April 2010 9:17 pm
Burung Kepodang (Oriolus chinensis) merupakan burung berkicau yang mempunyai bulu yang indah. Burung Kepodang cukup dikenal dalam budaya Jawa, khususnya Jawa Tengah, selain hanya karena Burung Kepodang merupakan fauna identitas provinsi Jawa Tengah, Burung Kepodang juga sering dipergunakan dalam tradisi ‘mitoni’ (tradisi tujuh bulan kehamilan). Konon, ibu hamil yang memakan daging burung Kepodang akan mendapatkan anak yang ganteng atau cantik jelita.
Burung Kepodang yang merupakan fauna identitas provinsi Jawa Tengah ini dikenal juga dengan sebutan manuk pitu wolu karena bunyinya yang nyaring mirip dengan ucapan pitu-wolu (tujuh delapan). Selain itu, burung ini juga terkenal sebagai burung pesolek yang selalu tampil cantik, rapi, dan bersih termasuk dalam membuat sarang.
Masyarakat Sunda biasa menyebut burung Kepodang ini dengan sebutan Bincarung. Sedangkan beberapa daerah di Sumatera menyebutnya sebagai Gantialuh dan masyarakat di Sulawesi menyebutnya Gulalahe. Burung Kepodang ini dalam bahasa Inggris sering disebut dengan Black Naped Oriole. Di Malaysia disebut burung Kunyit Besar. Sedangkan dalam bahasa ilmiah (latin), Burung Kepodang disebut Oriolus chinensis.
Ciri-ciri dan Kebiasaan. Burung Kepodang (Oriolus chinensis) berukuran relatif sedang, panjang mulai ujung ekor hingga paruh berkisar 25 cm. Bulunya indah berwarna kuning keemasan sedang bagian kepala,sayap dan ekor ada sebagian bulu yang berwarna hitam. Ciri khas burung Kepodang adalah terdapatnya garis hitam melewati mata dan tengkuk.
Iris mata burung Kepodang berwarna merah sedangkan paruhnya berwarna merah jambu dan kedua kakinya berwarna hitam. Burung Kepodang yang ditetapkan sebagai maskot (fauna identitas) provinsi Jawa Tengah ini mempunyai siulan seperti bunyi alunan seruling dengan bunyi “liiuw, klii-lii-tii-liiuw” atau “u-dli-u”. Selain mempunyai ocehan yang sangat keras dan nyaring, Kepodang juga pandai menirukan suara burung Ciblek, Prenjak, Penthet bahkan suara burung Raja Udang.
Makanan utama Kepodang adalah buah-buahan seperti pisang dan papaya, serangga kecil dan biji-bijian dan sesekali memakan ulat bumbung dan ulat pisang. Burung Kepodang biasa hidup berpasangan. Burung betina biasanya membuat sarang dengan teliti pada ranting pohon.
Ketelitian burung Kepodang dalam membuat sarang yang indah dan tampilan burung yang selalu terlihat bersih dan rapi dengan bulu yang indah menawan membuat burung ini sering mendapat predikat sebagai burung pesolek.
Habitat, Persebaran, dan Konservasi. Habitat asli Burung Kepodang (Oriolus chinensis) adalah di daerah dataran tinggi. Namun burung ini dapat juga ditemui di hutan terbuka, hutan mangrove dan hutan pantai hingga ketinggian 1.600 m dpl.
Kepodang tersebar luas di mulai dari India, Bangladesh, Rusia, China, Korea, Taiwan, Laos, Myanmar, Kamboja, Thailand, Filipina, Malaysia, hingga Indonesia. Di Indonesia, burung berbulu indah ini dapat dijumpai di pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi.
Burung Kepodang (Oriolus chinensis), meskipun di beberapa tempat di Indonesia julai jarang ditemukan tetapi secara umum masih dikategorikan sebagai ‘Least Concern’ atau ‘Beresiko Rendah’ oleh IUCN Redlist. Artinya burung pesolek maskot provinsi Jawa Tengah ini masih dianggap belum terancam kepunahan.
Subspesies Burung Kepodang. Burung Kepodang sebenarnya mempunyai beberapa subspesies (anak jenis). Beberapa anak jenis burung Kepodang diantaranya adalah:
Mitos dan Filosofi Jawa. Dalam masyarakat Jawa, burung Kepodang sangat dikenal oleh masyarakat dan dianggap mempunyai makna filosofi yang tinggi. Bagi masyarakat Jawa burung Kepodang melambangkan kekompakan, keselarasan dan keindahan budi pekerti sekaligus juga melambangkan anak atau generasi muda.
Burung Kepodang juga menjadi salah satu burung klangenan bagi masyakat Jawa di samping burung Perkutut. Mungkin lantaran nilai-nilai filosofi yang selaras dengan budaya Jawa maka tidak mengherankan jika kemudian burung Kepodang ditetapkan sebagai fauna identitas provinsi Jawa Tengah.
Satu yang lekat di budaya Jawa adalah sebuah mitos tentang burung Kepodang ini. Mungkin lantaran keindahan bulunya, tampilannya yang selalu ‘jaim’ dan terlihat bersih, rapi dan indah serta ketelitian dalam membuat sarang yang indah kemudian memunculkan mitos bahwa ibu hamil yang memakan daging burung Kepodang akan mendapatkan anak yang ganteng ataupun cantik. Karena itu, masih sering terdapat tradisi menyembelih burung Kepodang saat ritual ‘mitoni’ (tradisi selamatan tujuh bulan masa kehamilan).
Saya sendiri belum sempat bertanya kepada ibu saya apakah ketika ‘mitoni’ saya, beliau juga disembelihkan burung Kepodang si Pesolek cantik ini?.
Klasifikasi Ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Aves; Ordo: Passeriformes; Famili: Oriolidae; Genus: Oriolus; Spesies: Oriolus chinensis
Referensi;
Baca Juga:
Diposkan oleh: alamendah
Tag: bincarung, black naped oriole, burung cantik, burung indah, burung kepodang, fauna identitas jawa tengah, fauna identitas provinsi, gantialuh, gulalah, kepodang, klasifikasi ilmiah, maskot jawa tengah, mitos jawa, oriolus chinensis, subspesies kepodang
Mobile Site | Full Site
Get a free blog at WordPress.com Theme: WordPress Mobile Edition by Alex King.
Kayaknya saya belum pernah liat langsung deh om.
By Deka on 6 April 2010 pada 5:28 am
burungku tidak secantik yang digambar, maju terus mas alam
By budies on 6 April 2010 pada 6:00 am
Kan emang disengaja pakai gambar yang paling cantik, tho…
By alamendah on 6 April 2010 pada 6:12 am
begitu menawannya burung kepodang ini.. jadi teringat sama burung kepdangnya pakde di rumah.. 😀
By arsumba on 6 April 2010 pada 6:13 am
Lho, burungnya Pakde bukannya cucak rowo??
By alamendah on 6 April 2010 pada 6:44 am
kepodang…
sil juga baru denger dan liat burung seperti itu…
parah nih si isil…
ga gaol…
By isil on 6 April 2010 pada 6:59 am
kalau disunda disebutnya bincarung ya??? hehe. baru tw sayah.
By Den Hanafi on 6 April 2010 pada 7:12 am
Saya malah gak tau kang burung na, heheheheh
By Deka on 6 April 2010 pada 7:14 am
aku pernah liat ni sob, tapi di taman burung di Bali…hehehe
By Reza on 6 April 2010 pada 7:42 am
Burung ini selalu saya jaga loh..!!
Sangkarnyapun dibikin yang cantik 😛
By Dangstars on 6 April 2010 pada 7:44 am
Salam hangat Boy..dari Medan
Sukses selalu 😛
Kumha damang Kasep..?
By Dangstars on 6 April 2010 pada 7:46 am
Makasih mas, atas infonya…
By Dinoe on 6 April 2010 pada 9:13 am
dulu didesaku banyak
sekarang pada kemana yah?
By soewoeng on 6 April 2010 pada 9:27 am
Ikuta transmigrasi, ya?
By alamendah on 6 April 2010 pada 2:59 pm
Tapi Pak, kalau disembelih, sayang dong ya bulu-bulunya itu..
By zee on 6 April 2010 pada 9:38 am
Waw… lucu.. bagus warna bulunya.. 😮
By Asop on 6 April 2010 pada 9:39 am
salah satu burung yang cakep yang baru saya lihat 🙂
By arkasala on 6 April 2010 pada 9:53 am
burung yang cantik
By gema on 6 April 2010 pada 9:56 am
Mengenai “Burung Kepodang” saya teringat sebuah lagu cirebonan..

“Manuk kepodang, wulune kuning”
“sing disayang-sayang, belih bisa ketemu maning”
By indra1082 on 6 April 2010 pada 10:08 am
Coba ada kang embun777 pasti langsung dicariin pidionya di yutub…
By alamendah on 6 April 2010 pada 3:00 pm